Perjalanan Kasih KBKK ke Malinau-Mansalong, Keuskupan Tanjung Selor: Pelayanan Medik di Sarang Buaya (1)

0

LAZIMNYA cara kerja KBKK, pada setiap perjalanan misi bakti kasih ke daerah-daerah pedalaman di seantero Indonesia KBKK selalu menggandeng mitra kerja lokal. Di sini tentu saja  keuskupan dimana paroki/gereja tersebut berada.

Dalam perjalanan misi bakti kasiih ke Malinau-Mansalong

Tanjung Selor / Foto : Mathias Hariyadi

Tanjung Selor / Foto : Mathias Hariyadi

yang berada di wilayah administratif gerejani Keuskupan Tanjung Selor di Kalimantan Timur, tim KBKK yang berjumlah 17 orang terbagi dalam beberapa kelompok. Prosedur ini diambil guna semakin bisa menjaring wilayah yang lebih luas dan beragam untuk menjalankan misi bakti kasih tersebut.

17 orang peserta misi bakti kasih ke Keuskupan Tanjung Selor di Kalimantan Timur ini terdiri dari 5 orang tenaga medik/dokter (2 pria dan 3 perempuan), bapak keluarga (1) dan selebihnya 11 ibu rumah tangga.

Tim Dua

Grup dua ini terdiri dari Dr. Lukas, dr. Haris, Inge Barata, Wiewie Gunawan dan Welly. Turut mendampingi Grup Dua ini adalah Romo Wahyu Pr, imam diosesan dari Keuskupan Bandung yang diperbantukan menjadi pastur paroki di Gereja Maria Bunda Karmel Mansalong.

Usai perjalanan panjang –mula-mula dengan pesawat dari Jakarta menuju Tarakan dan baru kemudian disambung lagi dengan perjalanan via sungai menuju Malinau-Mansalong selama kurang lebih 5 jam—rombongan masih melanjutkan perjalanan lagi “masuk pedalaman”. Kali  ini, perjalanan juga ditempuh dengan jalur sungai selama kurang lebih 2 jam perjalanan.

Kami menempuh perjalanan jauh ke pedalaman dengan sungai ini pada malam hari. Suasana waktu itu gelap gulita disertai hujan dan dentuman petir sahut-menyahut tiada henti.  Seperti uji nyali, kesan saya waktu itu, ketika rombongan ini baru menapaki “tanah misi” pada hari pertama.

Menuju Stasi Pagar

Tanjung Selor / Foto : Mathias Hariyadi

Tanjung Selor / Foto : Mathias Hariyadi

Destinasi Grup Dua ini adalah Stasi Pagar yang berlokasi jauh di pedalaman hutan di Kalimantan Timur. Maka dari itu, baru keesokan harinya tanggal 5 April  –persis pada Hari Raya Kamis Putih—bakti kasih itu baru bisa dilaksanakan.

Kala itu, kami melakukan pelayanan  kesehatan untuk 120 0rang. Selain bakti kasih berupa pelayanan medik –sesuai keahlian kami sebagai dokter—kami juga menyelenggarakan bina iman untuk para anak-remaja. Juga disertai pembagian ransel dan alat tulis kepada mereka.

Baru kaget setengah mati, ketika di kemudian hari setelah semua pelayanan selesai, umat setempat mengatakan: di sini ini sarangnya buaya liar! Syukurlah informasi genting itu baru diketahui belakangan ketika semuanya sudah rampung. Coba, kebayang tidak kalau rombongan dari Jakarta ini tiba-tiba menjadi panik lantaran kawasan itu merupakan “jalur lalu lintas” kawanan buaya liar.

Syukurlah, tidak terjadi apa-apa selama pelayanan misi kasih ini. (Bersambung)

1530 Total Views 1 Views Today
Share.

About Author

Mathias Hariyadi

Pemimpin Redaksi Sesawi.Net

Leave A Reply