Mentawai Summit 2013: LSM Dukung Program Pembangunan Mentawai (2)

5

Mentawai Summit

Mentawai Summit

DUA hari lokakarya maraton di sebuah ruang konferensi yang panas sedikit di luar kota Tuapejat –Ibukota Kabupaten Kepulauan Mentawai di Pulau Sipora—akhirnya menghasilkan semacam “semangat bersama” di kalangan lembaga-lembaga swadaya masyarakat baik nasional maupun internasional untuk sebuah projek masa depan. Dan projek masa depan itu adalah niat bersama untuk memberi dukungan dan pendampingan bagi usaha bersama yang ingin dirintis Pemda Kabupaten Kepulauan Mentawai untuk menjadikan kawasan perairan yang ujung Samudera Indonesia ini menjadi maju, berkembang dan menghasilkan.

 

LSM Peserta Mentawai Summit bersama, Bupati, Yudas, Sabbagalet/ Foto : Mathias Hariyadi

LSM Peserta Mentawai Summit bersama, Bupati, Yudas, Sabbagalet/ Foto : Mathias Hariyadi

Kesepakatan bersama itu ditandatangani pada hari Rabu (15/5) malam, ketika berbagai wakil LSM lokal dan internasional menyatakan dukungannya dalam bentuk tandatangan atas sebuah semangat bersama: Mari Membangun Mentawai.

 

Label resminya sesuai MoU adalah menuju Mentawai yang Maju, Mandiri, dan Lestari.

 

Sasaran masa depan itu akan dicoba diraih melalui berbagai projek pembangunan di sejumlah bidang yakni:

·         pengelolaan air bersih dan air minum, sanitasi,

·         pengembangan ekowisata,

·         pembangunan energi listrik,

·         pengelolaan kawasan hutan berbasis masyarakat,

·         konservasi hutan mangrove dan laut,

·         program kesehatan ibu dan anak;

·         pembangunan ekonomi rakyat dan UMKM,

·         pengembangan kawasan pesisir dan kelautan terpadu;

·         pengembangan pertanian terpadu;

·         manajemen penanggulangan bencana;

·         peningkatan kapasitas SDM melalui pendidikan formal dan informal.

 

Dukungan LSM/NGO

 

Organisasi masyarakat dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berdiri menopang dan mendukung program masa depan itu adalah Yayasan Kehati, Indonesia Ecotourism Network (Indecon), Humanitarian Forum Indonesia, TFCA Sumatera, Yayasan Bina Swadaya, Yayasan Bina Desa, KKI Warsi, JKLPK, IBEKA (Yayasan Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan), Yakkum Emergeny Unit, International Relief and Development, Islamic Relief Indonesia, Yayasan Citra Mandiri, Green Siberut.

 

Sementara dua NGO asing yang juga sudah lama berkecimpung berkarya membangun Mentawai dan ikut mendukung gerakan bersama ini adalah

Plang papan nama 'selamat datang'

Plang papan nama ‘selamat datang’

Surfaid dan Liquid Future.

 

Meski bukan merupakan sebuah lembaga swadaya masyarakat melainkan lebih sebagai gerakan awam katolik, KBKK (Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan) juga tak ragu mendukung gerakan bersama tersebut. Jauh dari hingar bingar publikasi, dalam kurun 8 bulan terakhir ini KBKK sudah ikut berpartisipasi membangun Mentawai melalui program pendampingan dan beasiswa bagi lulusan SMA berprestasi untuk disekolahkan menjadi guru di Universitas Sanata Dharma.

 

 “Begitu selesai studi, mereka harus pulang menjadi guru dan mengajar di Mentawai sebagai bagian komitmen mereka membangun tanah kelahirannya,” ungkap Mathias Hariyadi dalam perbincangan pribadi dengan Bupati Mentawai Yudas Sabbagalet usai penandatanganan MoU.

 

Peserta LSM di Mentawai Summit / Foto : Mathias Hariyadi

Peserta LSM di Mentawai Summit / Foto : Mathias Hariyadi

Menatap masa depan

Optimisme segera terpancar di jajaran Pemda Kabupaten Mentawai. Dukungan sejumlah LSM untuk berpartisipasi membangun Mentawai tak ayal membuat para kepala dinas semakin bersemangat.  Apalagi kalau harus melihat ‘sejarah’ perkembangan menggembirakan yang terjadi di Kepulauan Mentawai dalam kurun 11 tahun  terakhir ini.

 

“Dari semula kami hanya punya 4 kecamatan, sekarang kami sudah punya 10 kecamatan dan tiga di antaranya dipimpin oleh camat perempuan,” kata Bupati Yudas Sabbagalet dalam paparannya di depan forum Mentawai Summit 2013.

 

Mimpi masa depan untuk pembangunan Mentawai harus didukung oleh pembangunan prasarana vital berupa jalan raya  dan pembangunan bandara baru  yang mampu melayani penerbangan pesawat-pesawat komersial berbadan sedikit lebih lebar daripada hanya sekedas Cessna.

 

Plang papan nama RSUD  Mentawai/ Foto : Mathias Hariyadi

Plang papan nama RSUD Mentawai/ Foto : Mathias Hariyadi

“Jalan panjang dari ujung Utara ke Selatan, dari Siberut menuju Pagai Selatan itu ingin kita namai Trans Mentawai. Jalan adalah akses penting dan utama untuk  mempercepat  pembangunan fisik di titik-titik terdalam di pedalaman,” terang Bupati Yudas.

 

Mimpi masa depan itu ibarat menorehkan sebuah prakarsa dan prakarsa itu menjadi indah dan menatang, apabila bisa diwujudkan dan didukung oleh badan-badan non pemerintah (LSM/NGO) dalam hal pendanaan dan pendampingan. “Kalau hanya mengadalkan pendapatan daerah, jelas kami tidak mampu meraih mimpi masa depan tersebut,” tegas Bupati Yudas Sabbagalet. (Bersambung)

 

2233 Total Views 1 Views Today
Share.

About Author

Mathias Hariyadi

Pemimpin Redaksi Sesawi.Net

5 Comments

Leave A Reply