Kisah tentang Agats Asmat: Teledor Jadi Rahmat (2)

0
Pesawat capung tipe Pilatus buatan Swiss milik Associated Mission Aviation saat mendarat di Bandara Ewer tanggal 18 June 2013/ Foto: Mathias Hariyadi

Pesawat capung tipe Pilatus buatan Swiss milik Associated Mission Aviation saat mendarat di Bandara Ewer tanggal 18 June 2013/ Foto: Mathias Hariyadi

PERJALANAN tim kecil KBKK dari Jakarta ke Keuskupan Agats di Papua harus menempuh rute penerbangan sangat panjang. Mulai dari Cengkareng menjelang tengah malam pukul 23.00 WIB, pesawat Airfast harus mendarat untuk stop-over di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dinihari. Setelah 30 menit kemudian, rombongan kecil KBKK ini harus melakukan  boarding lagi untuk rute penerbangan langsung Makassar-Timika.

Waktu tempuh penerbangan Makassar-Timika kurang lebih 2 jam 45 menit.

Rombongan kecil tim KBKK dalam misi ke Keuskupan Agats ini terdiri 4 orang: dr. Irene Setiadi, Lily Marcella, Hendra Kosasih, Mathias Hariyadi, dan Sr. Sylvia KFS. Yang terakhir ini adalah pemimpin (suster provincial) Kongregasi Suster-suster Fransiskanes dari Sambas, Kalimantan Barat—biasa disebut dengan KFS.

Sebelum akhirnya bergabung dengan tim kecil KBKK ke Keuskupan Agats, Sr. Sylvia KFS terlebih dahulu meninggalkan Sambas untuk kemudian menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 6 jam menuju Pontianak dan kemudian terbang ke Surabaya untuk urusan internal KFS. “Sore hari saya baru tiba dari Surabaya dan kemudian menjelang malam, saya lalu bergabung dengan tim KBKK di Kelapa Gading dan akhirnya bertemu dengan semua anggota rombongan di Bandara,” kata biarawati berdarah Dayak ini.

Dijemput Bapa Uskup Agats

tim-di-bandara-timika-pulang-300x227

Tim KBBK berfoto bersama di Bandara Internasional Moses Kilangin, Timika, Papua, 27 Juni 2013 sesaat sebelum bertolak dengan Airfast menuju Jakarta/ Foto: Mathias Hariyadi

Kami tiba dengan selamat di Bandara Moses Kilangin Timika kurang lebih jam 8-an pagi WIT. Di luar dugaan Bapak Uskup Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM sendiri yang berkenan menjemput kami di bandara. Memanglah, kata beliau, pas kebetulan ada acara khusus di Timika setelah sebelumnya rapat para uskup region Papua di Jayapura.

Itu pula sebabnya, rencana perjalanan KBKK ke Agats yang sedianya dijadwalkan mulai tanggal 17 Juni digeser menjadi tanggal 21 Juni sampai dengan 26 Juni 2013.

Ternyata rombongan tim KBKK ke Keuskupan Agats ini berjumlah 5 orang!

Bapak Uskup pun terkaget-kaget, karena tidak pernah ada konfirmasi bahwa jumlah anggota tim KBKK sebanyak 5 orang. “Setahu saya sampai hari ini hanya 2 orang saja: dr. Irene Setiadi dan Suster Sylvia KFS,” kata Mgr. Murwito di areal lobi bandar pesawat-pesawat lokal di Timika.

Peng! Peninglah kepala semua orang, tak terkecuali tentu saja Mgr. Murwito karena beliau tahu, jadwal penerbangan pesawat ultra light Pilatus trayek Timika-Agats itu sangat-sangat terbatas.

Tidak hanya jadwalnya yang hanya 2 kali seminggu pada hari Selasa dan Jumat. Lebih dari itu, kapasitas kursi dalam pesawat juga sangat terbatas: hanya 7 seaters! Jumlah kargo tidak boleh melebihi 800 kg.

Peraturan ini ketat dan tidak boleh dilanggar, karena risikonya jelas: salah-salah pesawat Pilatus buatan Swiss ini tak bisa mengudara karena kelebihan beban. Kalau pun akhirnya bisa terbang, bisa jadi tiba-tiba kehilangan power dan terjun bebas saking beratnya beban.

Teledor jadi rahmat

Uskup Agats Mgr. Aloysius Murwito sempat kecut hati mendengar jumlah rombongan KBKK ada 5 orang. Padahal, yang beliau tahu sesuai laporan hanya 2 orang. Usut punya usut, ternyata kontak dr. Irene Setiadi tentang jumlah penumpang dan beban logistic yang disampaikan ke Romo Joned Pr –Sekretaris Bapa Uskup—tiada balas.

“Dalam beberapa hari terakhir ini, Romo Joned bepergian ke pedalaman,” kata Mgr. Aloysius Murwito OFM. “Susahnya lagi, hari-hari terakhir ini pula penerbangan jalur Timika-Agats selalu penuh karena musim liburan sekolah,” kata Monsinyur merespon kebingungan tim KBKK melihat “ketidakcocokan” antara ‘manifest’ dengan informasi yang diterima Bapa Uskup.

Dalam sekejap, Bapak Uskup lalu menyuruh tim menunggu sejenak di areal luar apron bandara khusus untuk penerbangan jarak pendek. Beliau pergi ke konter AMA dan 10 kemudian dengan tersenyum lebar, beliau mengabarkan: “Masih ada tiga seat available untuk KBKK!”

Uskup Diosis Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM (bertopi berbatik coklat paling kanan) mengawasi proses penurunan bagasi milik tim KBKK di Bandara Ewer, Kabupaten Agats, Papua/Foto : Mathias Hariyadi

Uskup Diosis Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM (bertopi berbatik coklat paling kanan) mengawasi proses penurunan bagasi milik tim KBKK di Bandara Ewer, Kabupaten Agats, Papua/Foto : Mathias Hariyadi

Semua jadi plong rasanya. Padahal sebelum berita gembira itu tersampaikan, kami bertiga –Lily, Hendra dan saya—sudah bermiat akan tinggal di Timika sampai mendapat penerbangan berikutnya. “Biar dr. Irene dan Suster Sylvia yang harus berangkat ke Agats sesuai keperluan,” kata Lily.

Kalau saja skenario terburuk ini sampai terjadi, tentu saja hanya ada dua opsi yang bisa diambil. Yakni, naik kapal selama 10 jam dari Timika ke Agats atau harus menunggu jadwal penerbangan Pilatus berikutnya pada hari Jumat. “Itu berarti perlu tiga hari lagi,” tambah Lily.

Teledor dalam pikiran manusia –kata dr. Irene Setiadi di apron luar bandara—tak jarang sering membuka mata kita akan datangnya sebuah rahmat tak terduga. “Siapa mengira, hanya dalam tempo 10 menit tersedia bagi KBKK tiga seat available untuk penerbangan hari (Selasa) itu juga,” kata dia.

Alhasil, Selasa menjelang sore itu tim KBKK berhasil mengudara meninggalkan Bandara Moses Kilangin Timika menuju Agats. Jauh di bawah sana, seorang dokter PTT di RSU Agats terpaksa harus gigit jari, karena dia bisa terbang bersama kami.

Dokter ini sudah punya tiket dan sudah tiga kali pula gagal berangkat. Alasannya sepele: membawa beban terlalu banyak dan ini tidak bisa ditolerir oleh AMA: mau berangkat orangnya atau barangnya? Dokter ini memilih harus berangkat kedua-keduanya dan itu tidak bisa. Akhirnya, seat dokter ini ‘diberikan’ kepada penumpang lain yang ternyata juga seorang dokter.

Bersama-Lily-di-Bandara-Ewer-2-300x199

Beginilah mungilnya pesawat capung tipe Pilatus buatan Swiss yang menjadi milik Maskapai Penerbangan AMA/ Foto: Mathias Hariyadi

“Dokter yang berhasil terbang ini lebih mendesak kebutuhannya, karena dia harus segera mengurus pasien-pasien lepra yang terabaikan,” kenang Lily yang bersama Hendra Kosasih sempat mengobrol banyak dengan dokter berdarah Toraja ini.

Tautan:

1793 Total Views 1 Views Today
Share.

About Author

Mathias Hariyadi

Pemimpin Redaksi Sesawi.Net

Leave A Reply