Spirit yang Harus Dipegang Teguh Anggota KBKK

0
Tim KBKK di Pusat Pastoral dan Sosial Katikuloku, Sumba Tengah/ Foto : Pius

Tim KBKK di Pusat Pastoral dan Sosial Katikuloku, Sumba Tengah/ Foto : Pius

14 TAHUN lebih Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan (KBKK) selalu hadir untuk mereka yang menderita baik karena bencana alam, konflik, maupun yang hidup dalam kemiskinan dan terpinggirkan.

Meski harus mendaki bukit, menuruni tebing, berjalan kaki hingga ratusan kilo, bekerja di bawah terik matahari, dan dinginnya udara, serta perjalanan laut melawan ombak dan badai, semangat mereka tetap membara demi berada bersama dengan saudara dan saudari yang membutuhkan bantuan.

Dalam karya pelayanan di berbagai daerah, selalu saja ada peristiwa menarik yang KBKK alami. Entah itu menyenangkan maupun tidak, selalu dimaknai sebagai sebuah anugerah dan berkat dari Tuhan.

Ambil contoh misalnya saat kunjungan KBKK di tanah Sumba, NTT. Setelah tahun lalu saat masa pra paskah KBKK hadir melakukan karya misi, pekan lalu pada 26 Mei hingga 1 Juni, tim yang hadir karena undangan Sekretaris Eksekutif KOMSOS KWI Romo Kamilus Pantus ini juga mengalami hal-hal luar biasa.

Bukan kebetulan peristiwa terjadi saat tim hendak pulang ke Jakarta. Pada tanggal 31 Mei, Kepala Bandara menutup penerbangan dari dan ke Bandara Tambolaka, Sumba hingga waktu yang tidak ditentukan karena letusan Gunung Sangeang yang terletak di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Rencana kembali ke jakarta pun ditunda, karena tidak ada pesawat yang masuk ke Tambolaka.

Namun kira-kira pukul 10.00 Wita pada 1 Juni, kami mendapat informasi bahwa Bandara Tambolaka sudah dibuka. Beberapa pesawat sudah mulai terbang. Akhirnya rombongan KBKK dan tim KOMSOS KWI bertolak ke bandara berharap Pesawat Garuda yang kami tumpangi juga sudah mulai terbang selain Lion Air.

Semua tiket yang sudah dikumpulkan sejak siang telah diproses. Namun saat rombongan tiba di bandara, ada 2 tiket yang tertinggal. Akibatnya 2 orang pemilik tiket, yakni ibu Ani, dan ibu Inge harus terpisah dengan rombongan. 16 rombongan pertama dengan jadwal penerbangan pukul 14.10 wita, sementara 2 ibu ini mendapat jadwal penerbangan pukul 16.45 wita.

Rasa gelisah terlihat di wajah kedua ibu ini. Namun tidak lama berselang lama wajah kedua ibu ini berubah. Tak lagi terlihat khawatir, bahkan kedua ibu ini terus bercanda dan tertawa.

Rupanya saat mengurus perubahan tiket, pihak operator Garuda menyarankan agar 16 orang yang sedianya berangkat lebih awal diundur jadwalnya menjadi pukul 16.45 wita dengan alasan supaya semua bisa dalam satu pesawat.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pesawat Garuda masuk Bandara Tambolaka. Suara panggilan petugas terdengar memberitahukan bahwa pesawat yang datang adalah pesawat GA4021 yang adalah pesawat kami.

Setelah menaiki pesawat, kami semua tersadar bahwa Tuhan turut campur tangan dalam hal ini. Karena “kesalahan” kawan kami yang lupa memberikan tiket, namun Tuhan mengubahnya menjadi berkat, dan rombongan bisa kembali ke Jakarta bersama-sama hari itu juga.

Sementara sejauh pengetahuan kami, penerbangan satu lagi yang rencananya akan berangkat hari itu itu juga dibatalkan.

Terguling ke jurang
Pengalaman menakjubkan lain dialami setahun lalu saat KBKK dengan tim besarnya datang ke Sumba. Sebuah peristiwa luar biasa terjadi tahun lalu, kala KBKK sedang dalam perjalanan menuju paroki Nggongi-Sumba Timur untuk pelayanan di sana.

Bus yang berisi 19 orang anggota KBKK dan 1 sopir terguling dan masuk jurang. Medan yang menanjak, berkelok dan rusak membuat sopir tidak bisa mengendalikan bis. Akhirnya bus terguling dan masuk jurang dengan ke kedalaman lebih dari 5 meter.

“Bus terguling dan salto 360 derajat, 5 orang kawan KBKK terlempar keluar dari bis. Akhirnya badan bis mendarat tepat di samping salah satu kawan kami yang terlempar” cerita dr Irene.

Seluruh anggota KBKK termasuk beberapa kawan yang terlempar keluar dari bis, dan sopir semuanya selamat.

“Jangankan patah tulang, lecet pun tidak. Seluruhnya selamat” lanjut dr Irene.

Peristiwa itu menggemparkan seluruh wilayah Nggongi. Banyak masyarakat lokal yang datang dan menyaksikan peristiwa itu, dan heran karena tak ada satu pun yang cedera bahkan meninggal.

“Tuhannya orang katolik hebat ya?” celetuk beberapa masyarakat yang mungkin masih beragama marapu (kepercayaan lokal) saat melihat kejadianitu. Karena memang, di tempat yang sama sering terjadi kecelakaan, dan selalu memakan korban.

Sesaat setelah kejadian, dokter Irene langsung berdoa, “Tuhan, janganlah peristiwa ini membuat kaum awam menjadi trauma dan berhenti melakukan karya misi pelayananmu.”

Dan doa dr Irene pun dikabulkan Tuhan. Semua anggota KBKK yang mengalami peristiwa ini tidak berhenti melayani bahkan semakin percaya bahwa tugas mereka belum selesai. Tuhan tidak membuat mereka celaka dalam kecelakaan itu, artinya Tuhan masih mengutus mereka untuk melayani umatNya yang hina. Begitu mereka merefleksikan pengalaman ini.

“Kecelakaan itu tidak membuat saya trauma, bahkan saya semakin ingin terus melayani Tuhan. Karena Tuhan telah menyelamatkan saya.” Jelas Ibu Inge, salah satu dari 5 anggota KBKK yang terlempar dari bus.

Jadi, meski dalam situasi apa pun, peristiwa-peristiwa ini mengingatkan kepada para anggota bahwa Yesus yang memanggil dan mengutus selalu menolong dan menyertai.

“Kata ‘jangan takut‘ di dalam kitab suci diulang sampai 365 kali. Itu artinya, kita hanya boleh takut sekali dalam sehari,” tegas pendiri dan ketua KBKK, dr. Irene Setiadi.

Dalam keadaan apa pun, Tuhan selalu menyertai, karena itu jangan takut, kata dokter Irene.

1383 Total Views 1 Views Today
Share.

About Author

Retno Wulandari

Praktisi di bidang Public Relation

Leave A Reply