KBKK dan Pekan Misi Nasional KKI-KWI di Sumba: SDK Weerita yang Butuh Donasi (3)

0

INI catatan perjalanan misi bakti kasih KBKK di hari ke-7.

Hari ketujuh, tim mengadakan seminar kesehatan remaja mengenai bahaya rokok, alkohol, narkoba dan seks bebas di SMP Negeri 2 Wewewa. Seminar dibagi dalam dua kelas, karena ruangan kelas tidak mencukupi untuk peserta yang terdiri dari hampir 500 siswa-siswi.

Rm. Benyamin Leti Galli Pr atau yang lebih akrab dipanggil Rm. Benny menyambut tim bersama Kepala Sekolah. Setelah sedikit obrolan di ruangan untuk pengarahan singkat, tim pun menuju kelas di mana para siswa sudah menunggu.

Dokter Irene menjelaskan tujuan KBKK berada di Sumba dan kemudian dilanjutkan dengan pembahasan dan pemutaran film tentang bahaya rokok, narkoba, dan seks bebas. Ada poin penting yang sebelumnya diminta Rm. Benny untuk bisa ditambahkan, yaitu mengenai human trafficking yang kerap terjadi di Sumba.

Kasusnya begini. Banyak-anak remaja dibujuk dengan iming-iming pekerjaan yang bagus, gaji yang besar dan dibawa ke luar negeri. Di sini, Lulu Angkasa pun sempat memberi kesaksian mengenai kasus pemulangan remaja-remaja Sumba yang pernah dia bantu untuk kemudian bisa pulang kembali ke Indonesia. Kondisi mereka memprihatikan, disiksa dan tidak menerima gaji (bayaran). Selesai ceramah, diadakan pembagian pin dan rosario dari donatur.

img_5969Selesai acara seminar, tim bersama Rm. Benny menuju Pastoran Hati Kudus Yesus untuk makan siang bersama Rm. Romanus Dandus, Rm. Marselinus Pingge Lamunde. Pr dan beberapa wakil warga setempat. Di acara makan siang itu terjadi pembahasan mengenai kondisi SDK Weerita.

Setelah makan, tim mengunjungi Gereja Hati Kudus Yesus yang sedang mengadakan pembangunan gua Maria di samping gereja. Lalu tim juga datang mengunjungi lokasi SDK Weerita, yang terletak di wilayah Stasi St. Yoseph, desa Weekombaka, Kecamatan Wejewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT.

Anak-anak beserta para orangtua telah menunggu kedatangan tim. Mengenakan seragam SD, tanpa sepatu dengan tas ransel berlogo KBKK di pundak, anak-anak tampak gembira. Kondisi mereka dengan wajah kotor dan seragam putih yang lusuh sempat membuat tim prihatin.

Kondisi kelas yang sekarang mereka gunakan juga tak kalah memprihatinkan. Hanya merupakan bangunan bambu yang usang dengan bangku-bangku kayu dan alas tanah.

Baca juga:   19-27 Okt 2016: KBKK Isi Pekan Misi Nasional KKI-KWI di Keuskupan Weetebula, Sumba (2)

SDK Weerita sudah eksis selama 5 tahun dengan murid berjumlah 123 orang. Mereka adalah anak-anak penduduk sekitar yang berjumlah 127 KK. Sekolah mereka ini mereka bangun sendiri. Status tanah milik kehutanan. Tidak diperbolehkan menggunakan lahan negara, tetapi karena kebutuhan akan pendidikan untuk anak-anak, mereka tetap mengupayakan sekolah bisa berjalan terus.

  • Sudah ada 5 guru yang mengabdikan hidupnya di sana. Untuk pergi ke sekolah lain, jaraknya dua jam dengan berjalan kaki, sehingga bisa mengakibatkan anak-anak berhenti bersekolah.
  • Satu bangunan itu dipisahkan menjadi dua kelas hanya dengan menggunakan papan tulis usang sebagai pemisah.
  • Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya belajar sementara suara saling tumpang tindih terdengar.
  • Bangunan tersebut untuk kelas satu dan dua. Untuk kelas tiga, empat dan lima, mereka menggunakan bangunan gereja yang terletak berdekatan dengan bangunan sekolah itu. Anak-anak biasanya duduk di lantai tanah dan menggunakan bangku gereja sebagai meja.
  • Meskipun kondisi mereka seperti itu, anak-anak begitu bersemangat dan gembira menyanyikan lagu SEKAMI Sumba dan lagu-lagu kebangsaan. Tampak nyata harapan dan semangat mereka akan masa depan yang lebih baik.
nibq0633

Mengunjungi kondisi SD yang hanya berdinding anyaman bambu dan dipisahkan oleh papan tulis antar ruangan kelas.

Kemudian perjalanan diteruskan, masuk ke dalam hutan dengan kondisi jalan menurun, ke lokasi pembangunan kelas baru. Pembangunan sudah mulai terlihat. Lebih besar dari ukuran bangunan lama. Pondasinya berupa batu-batu gunung yang dihancurkan tidak rata. Sudah ada beberapa bangku dan meja dari bambu. Atap dari seng pun sudah terpasang. Rencananya mereka ingin membuat dua bangunan seperti itu.

Satu untuk 4 kelas (satu, dua, tiga dan empat). Bangunan kedua untuk  2 kelas (lima dan enam) ditambah ruangan guru dan perpustakaan. Namun mereka masih menunggu dana dari para donatur untuk bisa menyelesaikan bangunan.

Sementara waktu, mereka hanya bisa berusaha menggunakan bahan-bahan yang bisa mereka temukan di sekitar tempat itu serta yang disumbangkan dari gereja.

Dokter Irene sempat berbicara dengan para penduduk, berpesan agar para orangtua mau selalu menyemangati anak-anak mereka terus pergi ke sekolah agar tidak tertinggal jauh di belakang. Dengan begitu akan bisa terjadi perubahan kondisi kehidupan mereka menjadi lebih baik bila anak-anak telah dewasa nanti.

Sebagai penutup, dr. Irene juga meminta agar semua berdoa bersama, agar para donatur tergerak hatinya dan bangunan sekolah yang diharapkan selesai bisa segera berdiri di tempat itu. Sebelum pulang, tim KBKK dihadiahi sarung Sumba dan makan siang yang khusus disediakan warga.

Dalam kekurangan mereka masih juga berusaha memberi.

img_6149

Suasana sekolah apa adanya.

981 Total Views 1 Views Today
Share.

About Author

Angel Li

Anggota Komisi Dokominfo KBKK Periode 2018-2023

Leave A Reply