19-25 Maret 2017 Bakti Kasih ke Keuskupan Sintang: Menghadiri Salve dan Misa Tahbisan Uskup Mgr. Samuel Oton Sidin OFMCap (2)

0

INI catatan pada hari ke-3 & ke-4

Hari ketiga dibuka dengan misa yang dipimpin oleh Romo Endi. Setelah sarapan, dr. Irene dibantu dengan Sr. Faustina KFS mengadakan pengecekan kesehatan untuk Romo Endi, Romo Lukas, Romo Bimo serta Bapak Marjo dan isteri. Setelah pengecekan selesai, tim kembali dibagi dua.

Baca juga:  9-25 MARET 2017 Bakti Kasih KBKK ke Keuskupan Sintang: Pengajaran Iman dan Pelayanan Medik di Ng Tempunak (1)

 

Melakukan pemeriksaan kesehatan para imam lokal di Keuskupan Sintang, Kalbar.

Sebagian kembali melakukan pelayanan medis di Balai Pertemuan Santo Yoseph dan sebagian lagi melakukan serah terima barang-barang donasi untuk Paroki Ng Tempunak dan sekitarnya kepada Romo Endi, serta merapikan barang-barang donasi lain yang akan dibawa ke Sintang.

Hari ini tim akan meninggalkan Ng Tempunak dan menuju ke Sintang.

Serah terima barang tanda kasih kepada umat katolik di Keuskupan Sintang.

Pelayanan medis hari ini yang berlangsung hingga pukul 12.00 dua hanya dihadiri oleh 36 warga. Setelah makan siang, tim pun berkumpul di rumah Bapak Marjo untuk berdoa bersama dan mengucapkan terima kasih atas kemurahan hati Bapak Marjo sekeluarga, telah menerima dan melayani tim.

Kemudian tim berangkat menunju Sintang, ke rumah Ibu Lili yang akan menjadi tempat di mana tim menginap hingga perjalanan misi selesai.

Perjalanan menuju Sintang.

Ibadat Salve

Pukul 15.00 tim tiba di Sintang. Setelah beristirahat sejenak dan membersihkan diri, tim dengan berseragam putih KBKK kemudian bersiap-siap untuk menghadiri ibadat Salve di Gereja St. Maria Ratu Semesta Alam.

Acara ini berisi liturgi   pengakuan iman, janji kesetiaan dan pemberkatan insignia Uskup baru Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap. Acara dilanjutkan dengan makan malam bersama.

Ibadat ini dipimpin oleh Mgr. Ignatius Suharyo (Uskup Agung Jakarta). Hadir pula Mgr. Antonio Guido Filipazzi (Duta Besar Vatikan). Puluhan Uskup dari berbagai daerah di Indonesia juga turut dalam undangan.

Usai acara salve menjelang prosesi tahbisan uskup baru untuk Keuskupan Sintang: Mgr. Samuel Oton Sidin OFMCap.

Dalam homilinya Mgr. Ignatius Suharyo mengatakan, :menjadi Uskup bukan berarti naik jabatan, di Gereja Katolik hal tersebut tidak ada. Menjadi Uskup berarti kerelaan menjadi martir sejalan seperti Yesus menjadi Gembala yang baik.

Menghadiri tahbisan episkopal Mgr. Samuel Oton Sidin OFMCap

Hari keempat pukul 0700 , tim KBKK telah bersiap untuk berangkat ke Stadion Baning tempat acara Tahbisan Uskup diadakan. Stadion ini cukup besar dan mampu menampung ribuan umat dan Uskup, Imam, biarawati, religius.

Cuaca cerah, seakan ikut bersukacita pada hari yang istimewa ini.

Acara dimulai kurang lebih pada pukul 08.30 dengan pembacaan curiculum vitae Mgr. Samuel Oton Sidin OFM Cap. Lalu parade ratusan imam memasuki lapangan, yang kemudian mengisi kursi di atas panggung kiri dan kanan. Kemudian dilanjutkan dengan rombongan Uskup yang dipimpin oleh Uskup Keuskupan Sintag Terpilih Mgr. Samuel Oton Sidi, OFMCap memasuki lapangan.

Rombongan Uskup ini ditutup dengan kehadiran Mgr. Antonio Guido Filipazzi. Acara juga diliput dari berbagai media khusus dengan kartu kepanitiaan. Orang umum tidak diperbolehkan lalu lalang untuk mengambil gambar di depan panggung dan tengah lapangan.

Prosesi tahbisan episkopal Uskup Keuskupan Sintang Mgr. Samuel Oton Sidin OFMCap.

Misa dimulai dan dipimpin oleh Mgr. Agustinus Agus (Uskup Agung Pontianak – Uskup Keuskupan Sintang sebelumnya) yang bertugas sebagai Uskup Pentahbis Utama. Didampingi oleh Mgr. Pius Riana Prapdi (Uskup Keuskupan Ketapang) dan Mgr. Yulius Mencuccini CP (Uskup Keuskupan Sanggau).

Setelah bacaan Injil, dilanjutkan dengan Liturgi Tahbisan Uskup, dimana Mgr. Antonio Guido Filipazzi membacakan surat pengangkatan dari Tahhta Suci dalam bahasa Indonesia yang fasih. Kemudian Mgr. Antonio Guido Filipazzi membawakan homili yang garis besar isinya: berharap agar perayaan sukacita Tahbisan Uskup ini dapat menjadi motivasi iman bagi seluruh umat dan beliau mengingatkan Uskup baru akan misi yang dipercayakan kepadanya oleh Gereja, juga semua orang yang dipercayakan kepadanya oleh Tuhan.

Acara lalu dilanjutkan dengan janji Uskup terpilih. Setelah mengucapkan janji, Mgr. Samuel Oton Sidin OFMCap rebah telungkup ke lantai sementara doa Litani Orang Kudus dinyanyikan. Kemudian dilanjutkan dengan penumpangan tangan dari setiap Uskup yang hadir.

Setelah itu,  doa tahbisan dibacakan oleh Mgr. Agustinus Agus, dengan Kitab Suci di atas kepala Uskup terpilih. Lalu pemberian minyak krisma, pemakaian topi uskup, penyerahan Kitab Injil, cincin dan tongkat kegembalaan Uskup. Berakhirlah rangkaian penahbisan Uskup baru Sintang, Mgr. Samuel Oton Sidin yang kemudian dilanjutkan dengan Liturgi Ekaristi.

Liturgi ekaristi usai prosesi tahbisan uskup.

Dalam rombongan persembahan bagian belakang terlihat unik karena beberapa umat hadir dalam pakaian daerah Kalimantan. Bahkan ada seorang suku Dayak asli dengan atribut lengkap bulu-bulu burung di kepala dan tanpa mengenakan alas kaki, memanggul sebuah keranjang besar berisi kolekte umat sebagai persembahan yang diserahkan kepada Uskup Sintang.

Pada saat komuni, Romo Endi yang memimpin koor misa, menyanyikan lagu Panis Angelicus (roti para malaikat) dalam dua bahasa, Latin dan Indonesia dengan suara yang merdu.

Seperti Samuel kecil

Setelah berkeliling memberikan berkat kepada umat, Mgr. Samuel Oton Sidin OFMCap memberi sambutan:

“Dalam meniti panggilan khususnya saat ini saya merasa seperti Samuel kecil yang berulang-ulang dipanggil tetapi tidak cepat mengerti dan menjawab Sabda Tuhan. Saya juga merasa seperti Nabi Yeremia yang berkata: Ah, Tuhan Allah sesungguhnya aku tidak pandai berbicara. Atau seperti perwira yang hambanya sakit yang merasa tidak layak menerima Tuhan dalam rumahnya.

Saya merasa tidak berdaya hidup dalam daging manusia lama seperti pengalaman Paulus sebagaimana terungkapkan dalam suratnya kepada orang Galatia pasal dua ayat dua. Namun yang merasa dikuatkan, dibangkitkan kembali karena kuasa Tuhan yang ada padanya sehingga ia berani mengatakan: bukan lagi aku sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Kiranya Tuhan-lah yang diandalkan lebih daripada yang lain-lain.

Itulah harapan dalam melaksanakan tugas dan pelayanan ini.

Saya sadar sesadar-sadarnya atas kelemahan pribadi. Di lain pihak saya percaya Tuhan akan mencukupkan apa yang kurang dalam diri saya. Dan Dia-lah yang hidup dan berkarya melalui diri saya. “Non ego sed Christus in me”, Bukan aku tetapi Kristus-lah yang hidup dalam diriku. Dia pula dengan roh-Nya akan memampukan saya memanfaatkan secara maksimal talenta yang telah Dia anugerahkan kepada saya. Sehingga dalam kerjasama kodrat dan rahmat itu saya dikuatkan untuk mewujudnyatakan tugas pelayanan ini dengan setulus-tulusnya, dengan bijak, rendah hati, tabah dan semangat Fransiskan Kapusin yang melatarbelakangi hidup rohani saya dan sebagai orang Kalimantan Barat yang terintegrasi dengan seluruh umat Keuskupan Sintang dan bahkan dengan seluruh umat nusa dan bangsa Indonesia yang kita cintai ini.”

193 Total Views 1 Views Today
Share.

About Author

Angel Li

Anggota KBKK dari Paroki Trinitas Cengkareng, Jakarta Barat; ikut bermisi ke Keuskupan Weetebula -Sumba dalam rangka Pekan Misi Nasional KKI-KWI.

Leave A Reply