4 April 2017 KBKK ke Makassar: Sehari Rekoleksi bersama Tujuh Mahasiswa Keuskupan Agats-Asmat, Penerima Beasiswa Menjadi Perawat

0

AWAL sebuah inspirasi.

Tahun 2011 untuk pertama kalinya,  KBKK mengunjungi  wilayah Keuskupan Agats-Asmat. Kala itu, KBKK datang membawa romobongan sangat besar:  26 orang anggota dan dibagi dalam 4 tim.

Kemudian tim diutus oleh Bapak Uskup Keuskupa Agats-Asmat ke beberapa tempat yang berbeda. Saat berada di Agats,  dr. Irene bertemu dengan mama-mama Agats (sebutan untuk ibu-ibu) dan bertanya pada mereka: “Anaknya berapa?”

Ternyata anak ibu-ibu di Agats rata-rata berjumlah 2-6 orang, sementara di Agats saat itu belum ada Puskesmas. Ini berarti mereka tidak ber-KB, tetapi anak yang mereka miliki cenderung sedikit.

Beberapa kali melahirkan

Dr. Irene kemudian bertanya lagi, “Mama melahirkan berapa kali?”

Rata-rata jumlah melahirkan dua kali dari jumlah anak yang mereka miliki, artinya separuh dari anak mereka meninggal. dr. Irene lalu bertanya dalam doanya: Tuhan, kata orang umur di tangan Tuhan. Apakah anak-anak Agats yang meninggal ini di tangan Engkau, Tuhan? Di penghujung doa, ada suara Tuhan terdengar di kedalaman hati dr. Irene: Mereka mati di tanganmu, karena ketidakpedulian dan kelalaianmu…

Enam bulan kemudian, Sr. Sylvia KFS,  pimpinan KFS saat itu, datang ke Jakarta. Dr. Irene meminta Suster mendermakan tenaga dan KBKK mendermakan apa yang Suster butuhkan agar bersama-sama bisa membuka komunitas di Agats.

Permintaan utama: dikirim seorang bidan untuk membantu menjaga kehamilan, membantu proses persalinan dan memberikan nasehat untuk merawat bayi. Lalu dikirimlah Sr. Priska (bidan) dan seorang suster lain untuk membuka asrama di Atsj untuk anak-anak SMP dan SD.

Itulah langkah kecil yang dibuat untuk menanggapi panggilan Tuhan. Tuhan memanggil dengan luar biasa, dengan mengejutkan, yang awalnya terasa mustahil untuk ditanggapi. Lalu kemudian ketika mengantar kedua Suster ke Agats, dr. Irene bertemu dengan Sr.Tina (Pimpinan Sekolah Yan Smith) dan bertanya: “Bagaimana kalau kita memperbaiki situasi kesehatan Agats dengan mengirim anak-anak Agats sekolah untuk menjadi perawat, bidan atau tenaga kesehatan? Mereka nantinya bisa kembali untuk membantu daerah mereka.”

Tujuh remaja asal Keuskupan Agats-Asmat yang menerima program bantuan beasiswa menjadi perawat dari KBKK. Empat penerima program angkatan pertama semuanya puteri dan angkatan kedua semuanya putera. Kini mereka belajar menjadi perawat di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIK) Stellah Maris di Makassar yang diampu oleh para suster YMY.

Kerjasama dengan STIK Stella Maris dan Suster YMY Makassar

KBKK akhirnya bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIK) Stella Maris Makassar, Keuskupan Agats-Asmat dan Sekolah Yan Smith yang dibina oleh Suster-suster Ursulin. Empat anak perempuan yang dikirim pada tahun pertama adalah Theresia, Eva, Apolonia dan Rosalina. Mereka diberi beasiswa kuliah di STIK Stella Maris, Makassar. Saat ini mereka telah memasuki tahun ketiga mereka dan akan segera menyelesaikan kuliah dan mengabdikan diri ke Keuskupan Agats di bulan September 2017 mendatang.

Pada tahun kedua tidak ada anak yang dikirim dari Agats karena tidak ditemukan kandidat yang tepat dari Agats. Tiga anak laki-laki yang dikirim pada tahun ketiga adalah Klemensius, Sargon dan Modestus. Klemensius diberikan beasiswa kuliah di STIK Tamalatea, sementara Sargon dan Modestus di STIK Stella Maris.

Itulah sepenggal kisah mengapa anak-anak Agats bisa bersekolah di Makassar saat ini. Semua terjadi karena rencana besar Allah. Misi Allah.

4 April 2017: Rekoleksi sehari bersama KBKK

Hari ini,  KBKK datang ke Makassar khusus untuk memberikan rekoleksi kepada ketujuh mahasiswa Agats, para penerima program beasiswa kuliah di Makassar untuk menjadi perawat dan tenaga kesehatan. Tim kali ini hanya terdiri dari 2 orang saja: dr. Irene Setiadi dan Angel Li.

Senang menerima kunjungan KBKK untuk mengikuti sesi rekoleksi sehari.

Tim disambut oleh Ibu Henny Pongantung, S.Kep.Ns.MSN (Ketua STIK Stella Maris Makassar periode Januari 2014 s.d Januari 2017), Bapak Siprianus Abdu.S.Si.Ns.M.Kes (Ketua STIK Stella Maris Makassar sekarang) dan Sr.Anna Mathilda JMJ (Kepala Asrama Puteri Stella Maris).

Dalam rekoleksi ini,  para mahasiswa Agats ini  diberi  penjelasan mengenai KBKK yang diutus pergi ke pelosok-pelosok daerah sebagai tanda kehadiran Allah. Mereka juga diingatkan akan tugas perutusan mereka setelah menyelesaikan sekolah nanti: memperbaiki/memajukan tingkat kesehatan masyarakat Agats-Asmat. Mereka mengemban misi Allah, karena Allah yang telah memilih mereka.

Dr. Irene pun mengajak anak-anak untuk melakukan Sharing Injil, belajar mendengarkan suara Tuhan melalui firman.

Sharing Injil bersama ketujuh mahasiswa perawat di STIK Stella Maris, semuanya penerima program bantuan beasiswa KBKK.

Dalam sharing-nya, Modestus berkisah demikian.

“Di kampung saya,  tidak ada tenaga kesehatan atau perawat. Saat saya duduk di kelas 3 SMA, Sr. Tina OSU memanggil saya ke kantor dan menawari saya  untuk kuliah di Makassar,” katanya.

Modestus dari dulu telah bercita-cita menjadi perawat/mantri kesehatan. Karena itu, ia merasa sangat senang. Ia bersyukur atas jalan yang Tuhan buka untuknya. Ia pun berdoa agar dapat kuliah dengan baik dan dapat kembali ke Agats untuk mengubah tingkat kesehatan di kampung halamannya: Agats.

Kisah dari tujuh orang anak Agatsini  berbeda-beda.

Ada yang pada awalnya tidak berkeinginan menjadi perawat, malah bercita-cita menjadi guru dan camat. Tetapi setelah belajar ilmu keperawatan dan menangani pasien, malah jatuh cinta pada profesi keperawatan tersebut. Namun dalam satu hal mereka semua setuju dan percaya bahwa hari ini mereka bisa berada di Makassar karena Allah telah memilih dan mengutus mereka.

Mereka pun ingin bisa menjalankan tugas perutusan ini dengan sebaik-baiknya. Hal itu memang terlihat dari nilai akademis mereka yang baik, rata-rata di atas 3.

Bangga menjadi anggota KBKK di wilayah nun jauh di sana: Keuskupan Agats-Asmat di Papua.

Tiga tahun meninggalkan Agats-Asmat untuk belajar di Makassar

Dalam kesempatan itu,  mereka bersama-sama menyanyikan sebuah lagu daerah Asmat dengan nada sendu. Seorang dari mereka sempat meneteskan airmata saat bernyanyi. Mungkin teringat akan kampung halamannya.

Ya, inilah perjuangan hidup anak-anak Agats, jauh dari keluarga dan kampung halaman mereka.

Selama tiga tahun mereka meninggalkan tempat kelahiran mereka, ada kerinduan yang mendalam yang harus disimpan. Dari pengakuan mereka, saat pertama kali datang di Makassar, penyesuaian diri terasa berat.

Mulai dari cara berbicara yang berbeda (Papua yang amat berbeda dari Makassar), mereka kerap merasa minder untuk membuka diri dan bergaul. Kemudian mereka juga harus mengikuti aturan hidup di asrama, yang jelas berbeda dengan kehidupan mereka sebelumnya.

Tapi syukur kepada Allah untuk penyertaan-Nya, mereka ternyata mampu menyesuaikan diri dan juga belajar dengan baik. KBKK pun mencoba hadir sebagai keluarga, mengingatkan mereka bahwa mereka tidak sendiri dan banyak orang mendoakan mereka agar bisa berhasil dalam studi dan mengemban misi Allah dalam hidup mereka.

444 Total Views 2 Views Today
Share.

About Author

Angel Li

Anggota KBKK dari Paroki Matias Rasul, Duri Kosambi, Jakarta Barat; ikut bermisi ke Keuskupan Weetebula -Sumba dalam rangka Pekan Misi Nasional KKI-KWI.

Leave A Reply