KBKK Terpanggil Mengikuti Gerak Roh Zaman

0

SEJAK dibentuk tahun 2000, Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan (KBKK) selalu hadir di tengah-tengah masyarakat yang menderita akibat bencana alam dan kemanusiaan, konflik horizontal, serta kemiskinan akut.

Konflik horisontal yang terjadi di Atambua, Poso dan Ambon menorehkan sejarah kelam di negeri ini. Banyak orang kehilangan sanak saudaranya, kehilangan pekerjaan, rumah dan semua harta benda mereka. Peristiwa-peristiwa ini memanggil KBKK untuk bermisi ke wilayah-wilayah konflik ini. Memberikan bantuan, baik itu layanan kesehatan, obat-obatan, sembako, logistik, hingga konseling.

Misi KBKK untuk korban bencana kemanusiaan pun terus berlanjut hingga tahun 2004. Setelah konflik horizontal mereda, bencana alam datang dan menghancurkan sebagian wilayah Nusantara. Gempa bumi dan tsunami yang mengguncang kota Serambi Mekkah dan sekitarnya telah merenggut ratusan ribu korban. Bencana ini menarik empati banyak pihak, tak terkecuali KBKK.

Bencana gempa bumi seolah tak berhenti dan terus menggoncang ibu pertiwi. Setelah Nabire, dan Aceh, gempa besar kembali terjadi di Nias, Mentawai, Yogya dan Padang. Oleh karena itu selama periode tahun 2004 hingga 2014 fokus misi KBKK adalah ke daerah-daerah yang terkena bencana alam tersebut.

Kini, di tahun 2016- 2017 bencana hampir tak pernah terjadi di negeri ini.  Namun, bukan berarti misi KBKK berhenti. KBKK dibawah komando dr. Irene Setiadi terus berkomitmen untuk bermisi dan melayani yang menderita, miskin, sakit, tertinggal dan terpinggirkan. Seperti dikatakan Ketua KBKK, dr.Irene Setiadi saat ditemui di acara retret tahunan KBKK, awal Juni lalu di Villa Mega Indah, Megamendung, “Ketika bencana tidak ada, apakah misi kita berhenti? Tentu tidak.”

“Saat ini fokus kami adalah ke daerah-daerah tertinggal, terpencil, miskin terutama di luar Jawa,”lanjutnya.

Seperti diinformasikan melalui website resmi KBKK. Dalam waktu dekat, agenda misi KBKK adalah ke wilayah Bangli – Kintamani – Gianyar – Bali, 6 -12 Juli 2017.

“Mengapa Bali” tanya Irene. Karena Bangli termasuk daerah tertinggal. Dan yang dilayani adalah masyarakat umum dimana 80 persen warganya beragama non Katolik.

Irene kembali menekankan, saat ini KBKK menanggapi situasi nyata yang berkembang sehingga KBKK juga harus mulai berani membuka diri dan bekerja sama lintas agama demi kemanusiaan yang universal.

 

326 Total Views 1 Views Today
Share.

About Author

Retno Wulandari

Praktisi di bidang Public Relation

Leave A Reply