KBKK Misi Bali, Kasih Universal Berkarya Lintas (Batas) Iman (1)

0

Misi KBKK Bali (Bangli, Kintamani – Gianyar) yang diadakan pada tanggal 06 – 10 Juli 2017 ini diikuti oleh 16 anggota, yaitu:

  1. drg. Any (PIC)
  2. dr. Irene (Ketua KBKK – PIC Medik & Seminar)
  3. dr. Lukas (Pengawas KBKK – Medik)
  4. dr. Haris (Ketua Pokja Kesehatan KBKK – Medik)
  5. Inge (Ketua Pokja Misi KBKK– Sekretaris)
  6. Lilyana (Bendahara & Medik obat)
  7. Yaya (Medik obat)
  8. Grace (Dokumentasi)
  9. Lisi (Logistik & BIA)
  10. Ana (Umum)
  11. Tina (Umum)
  12. Djuli (BIA)
  13. Angel (Dokumentasi, Seminar & BIA)
  14. Veronika (BIA)
  15. Timothy (Medik)
  16. Jesswi (Umum)

Tim KBKK Misi Bali kloter ke-2 tiba

Misi kali ini membawa barang-barang donasi sebagai berikut:

  1. Alkitab 80 buah
  2. Rosario 250 buah
  3. Makanan 400 pax untuk acara Baksih medik 2 tempat, seminar & BIA
  4. Kaos OMK 102 buah
  5. Alat pemeriksaan gula darah
  6. Obat & vitamin
  7. Sandal 150 pasang
  8. Gelas plastik 24 lusin (untuk keperluan umat di Paroki)
  9. Kasula 3 buah
  10. Selendang 60 pcs
  11. Kemeja
  12. Baju anak-anak
  13. Buku tulis & kotak pensil
  14. Majalah anak-anak
  15. Boneka & barang-barang perlengkapan BIA

Foto bersama setelah Lectio Divina & Adorasi

Hari pertama (06 Juli 2017), menunggu kedatangan semua anggota di Bali, sebagian anggota yang telah dulu sampai di Bali mengunjungi Gereja Santo Fransiskus Xaverius, Kuta untuk mengadakan Lectio Divina – Adorasi di ruang adorasi.

Persiapan keberangkatan tim KBKK ke Desa Bonyoh

Hari kedua (07 Juli 2017), tim membuka hari dengan misa pagi bersama di Gereja Santo Fransiskus Xaverius bersama Romo Damianus Hayong PR yang merupakan romo rekan di paroki tersebut. Setelah misa dan sarapan bersama, tim menuju ke Desa Bonyoh, Kecamatan Bangli, Kabupaten Kintamani. Di sini tim akan mengadakan baksih medik dan kegiatan BIA bersama warga yang 80 persen beragama Hindu dan Islam. Romo Dominikus I Gusti Bagus Kusumawanta PR atau yang akrab disapa dengan Romo Wanta, yang adalah romo Paroki Santa Maria Ratu Rosari, Gianyar, merupakan PIC lokal dari Misi Bali ini.

Mengapa Bali? Mengapa warga berbeda agama?

KBKK percaya bahwa ini adalah perutusan baru (duc in altum) yang menuntun karya KBKK melayani masyarakat umum di daerah tertinggal yang warganya mayoritas beragama non Katolik. KBKK mulai membuka diri dan bekerja sama lintas agama demi kemanusiaan yang universal.

Gapura memasuki Desa Bonyoh, Bangli

Desa Bonyoh ini merupakan desa yang masih tertinggal. Kebun jeruk ada di mana-mana. Namun desa ini kekurangan air, membuat warga desa jarang mandi sehingga terlihat agak kumuh. Banyak lansia yang berdatangan di acara baksih medik. Yang mengkhawatirkan adalah jalan, halaman, hingga dalam ruangan dipenuhi banyak lalat. Namun anehnya dari 185 warga yang datang berobat tidak ada satupun yang menderita diare. Menurut warga, lalat-lalat berdatangan karena kebun jeruk memakai pupuk kandang (kotoran hewan). Kedatangan tim KBKK disambut oleh Kepala Desa Bonyoh, Bapak I Wayan Denia dan panitia lokal.

Test gula darah oleh dr.Lukas & dr.Irene

 

Pemeriksaan medik oleh dr.Haris

Baksih medik berupa: pemeriksaan tekanan darah, test gula darah, pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat serta vitamin. Kegiatan berlangsung lancar, tim KBKK dibantu juga oleh dokter lokal, dr. Lato, bidan lokal, serta panitia lokal yang mendata nama dan keterangan warga yang akan berobat. Ada sedikit kesulitan bahasa, namun warga yang mampu berbahasa Indonesia secara sukarela menjadi penterjemah untuk para dokter.

dr.Irene ikut terjun dalam kegiatan BIA

Saat akan memulai acara BIA (Bina Iman Anak) di halaman depan Posyandu, Romo memberi pesan: bagikan saja hadiah, tidak perlu mengajak anak-anak bermain. Mungkin karena beliau khawatir mengenai bahan yang akan dipakai KBKK dalam acara, mengingat bahwa mayoritas warga bukan merupakan umat Katolik. Namun, kami tetap mengajak anak-anak bernyanyi bersama dengan gembira. Bukan dengan lagu rohani melainkan dengan lagu umum yang dipilih anak-anak sendiri, mulai dari balonku ada lima hingga Indonesia Raya. Anak-anak sangat antusias, apalagi karena ada hadiah yang diberikan bila berani tampil di depan.

Anak-anak menari hanya diiringi decak dari mulut teman-temannya

Saling peduli, saling melengkapi

Ada beberapa anak yang diminta menari. Tanpa musik mereka pun mulai menari dengan gemulai. Lalu tanpa diminta, beberapa anak lain mulai berdecak, menirukan irama musik untuk mengiringi teman-temannya tersebut menari. Sungguh luar biasa kekompakan anak-anak desa Bonyoh. Sukacita dan kegembiraan mewarnai acara tersebut.

Ekspresi gembira di wajah Anak-anak Desa Bonyoh, Bangli

Tim KBKK makan siang bersama panitia lokal dengan nasi kotak yang disiapkan sendiri oleh ibu-ibu panitia. Setelah itu dilakukan penyerahan barang-barang donasi: rosario untuk umat Katolik yang diwakili oleh Kepala Stasi desa Bonyoh, kaos dan selendang untuk panitia lokal serta beberapa warga. Warga pun memberikan oleh-oleh berupa jeruk yang dipetik langsung dari kebun mereka. Setelah foto bersama, tim KBKK pun meluncur pulang ke Ubud. Hari itu ditutup dengan rapat koordinasi tim KBKK untuk kegiatan misi esok hari dan sharing injil bersama.

460 Total Views 1 Views Today
Share.

About Author

Angel Li

Anggota Komisi Dokominfo KBKK Periode 2018-2023

Leave A Reply