KBKK Misi Bali, Kasih Universal Berkarya Lintas (Batas) Iman (2)

0

Hari ketiga (08 Juli 2017), kegiatan KBKK Misi Bali hari ini adalah mengunjungi anak-anak panti asuhan dan keluarga pemulung.

 

Dinding pintu masuk panti dilukis oleh anak-anak panti

Kejutan menemui anak-anak luar biasa

Tiba di lokasi panti asuhan, beberapa anak laki-laki remaja telah menanti dan langsung membantu tim KBKK membawa masuk barang-barang donasi. Mereka sigap, bersemangat dan ceria. Tim pun diantar masuk ke halaman panti yang dijadikan tempat pertemuan. Di dinding panti ada lukisan bagus dengan nama panti tertera. Di dinding atas tergantung berbagai lukisan. Semua anak panti yang rata-rata remaja, tersenyum menyambut tim dan menyalami satu persatu anggota tim KBKK. Sempat terlintas di kepala saya, anak-anak panti ini tidak terlihat seperti anak panti asuhan. Wajah-wajah mereka cerah dan binar mata mereka tampak begitu percaya diri. Tidak tampak kurang suatu apapun. Lalu saya akhirnya menyadari kejutan itu, ketika memperhatikan beberapa anak sibuk bercakap-cakap dengan gerakan tangan yang cepat, satu dengan yang lainnya. Mereka ternyata sebagian besar bisu dan tuli.

Percakapan seru antara dua anak panti

Ibu Panti Asuhan Kesayan Ikang Papa yang bernama Ibu Agung Sri membuka pertemuan dengan memperkenalkan latar belakang pendirian panti tersebut. Pencetusnya adalah istri dari Bupati Gianyar pada tahun 1986. Panti itu menampung anak-anak tuna rungu dan tuna wicara serta lemah mental. Mereka bersekolah gratis di SLB dan mendapatkan bantuan dari pemerintah sebesar Rp. 2.500/anak/hari. Mereka membutuhkan bantuan donatur untuk bisa menutupi kebutuhan sehari-hari. Anak-anak panti saat ini berjumlah 35 orang, berasal dari beragam kondisi: keluarga tak mampu, orangtua cerai, orangtua meninggal hingga orangtua yang gila. Mereka semua beragama Hindu, terkecuali satu anak yang beragama Islam.

Seorang anak panti sedang memperkenalkan dirinya

Karunia Allah dibalik keterbatasan

Ibu Agung berkisah bahwa ada anak-anak panti yang pandai melukis. Beberapa lukisan mereka digantung di tempat itu dan ada yang sudah dibeli orang. Ada pula anak-anak yang pandai menari meski tuli, dengan cara mengandalkan aba-aba dari temannya yang bisa mendengar musik. Mereka pun sering dipanggil menari dalam acara ulang tahun, promo produk dan acara Natal di hotel. Ibu Agung bahkan bercerita dengan bangga bahwa ada anak yang berprestasi dalam olahraga Wushu, telah ikut kompetisi di beberapa negara, seperti: Singapura, Filipina dan Australia.

Perkenalan dengan bantuan Ibu Panti

Satu persatu anak panti memperkenalkan dirinya. Yang tuna rungu dan tuna wicara menggunakan gerakan tangan sementara Ibu Agung membantu menterjemahkannya. Sementara yang lemah mental, mampu berbicara dengan baik. Tidak ada yang terlihat malu atau rendah diri. Ada rasa haru dan bangga melihat mereka. Meskipun cacat, tapi mereka seakan tak mempermasalahkan kekurangan mereka. Mereka tampil percaya diri, layaknya anak-anak yang sempurna.

Foto bersama sebelum pulang

Setelah memberikan sumbangan dan membagikan barang-barang donasi, tim pun pamit pulang untuk melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya, menemui 10 keluarga pemulung.

Lokasi pengolahan sampah Gianyar

Tempat pemulung ini adalah TPA kabupaten Gianyar, yang dikelola oleh Yayasan Pemilahan Sampah Temesi. Bapak pimpinan yayasan menjelaskan sampah yang dikelola sekitar 30-40 ton/hari. Sampah organik diolah menjadi pupuk organik, sementara yang non organik dipilah-pilah dan kemudian dijual ke pengepul. Aktivitas para pemulung ini bisa membantu mengurangi volume sampah. Meskipun diakui bahwa tempat tersebut sudah overload untuk saat ini.

Patung yang dihias dari plastik kemasan bekas

Pekerjaan luhur

dr.Irene memberikan apresiasi kepada para pemulung yang merupakan para pekerja lingkungan hidup. Beliau menyebutkan bahwa pekerjaan mereka adalah suatu kepedulian dan karya yang luhur karena memelihara bumi untuk generasi yang akan datang.

Salah satu anggota termuda KBKK, Veronika memberikan boneka dari donatur KBKK

Tim pun secara bergantian maju untuk memberikan sumbangan yang berupa: bantuan langsung (beras, dll), selendang, sendal dan boneka. Para pemulung juga diundang untuk menghadiri acara pengobatan gratis yang akan diadakan KBKK esok hari di Gereja Santa Maria Ratu Rosari, Gianyar. Setelah berfoto bersama, tim pun pamit pulang. Kunjungan ke 2 tempat ini adalah bentuk kepedulian KBKK terhadap sesama lintas agama. Berbagi kasih kemanusiaan yang universal, berbagi sukacita pada sesama yang kecil dan terlupakan.

Pemberian selendang dari donatur KBKK

312 Total Views 2 Views Today
Share.

About Author

Angel Li

Anggota KBKK dari Paroki Trinitas Cengkareng, Jakarta Barat; ikut bermisi ke Keuskupan Weetebula -Sumba dalam rangka Pekan Misi Nasional KKI-KWI.

Leave A Reply