Kasih Tuhan Tercurah Bagi Mentawai (3)

0

BANGGA MENJADI GURU DI KAMPUNG SENDIRI

Oleh; Mespin Zulian Samaloisa, S. Pd
Alumnus Universitas Sanata Dharma, Alumni Mahasiswa Beasiswa KBKK (Angkatan 1) – Mentawai
Guru SD Santo Petrus Tuapeijat Mentawai

Setelah bertahun-tahun mengenyam pendidikan di Universitas Sanata Dharma, kota Yogyakarta, banyak hal yang dimurnikan dalam diri saya selama menjalani pendidikan menjadi seorang guru. Mulai dari kegiatan pembinaan mahasiswa dalam bentuk organisasi, pelatihan kepemimpinan, karakter dan lain sebagainya yang kemudian bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bekal pelatihan tersebut membuat saya semakin termotivasi untuk
berbagi pengalaman dengan anak-anak yang ada di kampung tercinta, Mentawai. Perjuangan studi di kota pelajar itupun selesai yang diakhiri dengan mendapatkan gelar sarjana pendidikan.

Sebagai orang yang berasal dari kampung terpencil tepatnya di Dusun Kosai Baru, Desa Sinakak, saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa atas keberhasilan ini. Keberhasilan ini merupakan bukti kasih dan cinta Allah yang saya rasakan lewat KBKK. Saya merasakan bagaimana dicintai sepenuhnya oleh Allah melalui orang-orang yang ada di
dalam KBKK itu sendiri. KBKK berperan penting dalam proses pencapaian ini. Dengan keberhasilan ini, saya yakin kedua orangtua saya pun bangga meskipun tak sempat menghadiri wisuda anaknya.

Saat ini saya sudah sah menjadi seorang guru. Tanpa pernah ragu, Mentawai adalah pilihan saya untuk menjadi guru. Mengapa menjadi guru di Mentawai? Alasannya sangat sederhana. Pertama, saya ingin mengabdikan diri saya demi kemajuan pendidikan Mentawai. Mentawai termasuk daerah 3 T (tertinggal, terpencil dan terluar). Status ini tentunya bukan sesuatu yang enak didengar tetapi situasi ini membuat saya termotivasi untuk memajukan pendidikan di Mentawai. Kedua, karena profesi guru ini sendiri adalah profesi yang membantu orang lain. Mengajar adalah sebuah komitmen untuk membuat perubahan dalam kehidupan anak-anak. Teachers, Schools, and Society. Harapan inilah yang membuat saya semakin berkomitmen untuk menjadi guru di kampung sendiri agar mimpi anak-anak untuk mendapat kehidupan lebih cerah dapat tercapai. Guru menjadi fasilitator/penghubung bagi anak-anak untuk mewujudkan sejuta mimpi yang mereka miliki. Ketiga, karena panggilan hidup. Tidak banyak orang yang ingin menjadi guru. Saya selalu ingat salah seorang dosen saya mengatakan bahwa “Jangan menjadi guru kalau anda ingin jadi orang kaya, tetapi jadilah pengusaha atau pebisnis maka anda akan menjadi orang kaya”. Menjadi guru adalah pilihan hidup yang saya pilih meskipun pilihan ini tidak gampang untuk dijalani. Bagi saya, menjadi seorang guru adalah menjadi orang yang tidak pernah berhenti memberikan harapan baik bagi anak-anak.

Tony Blair mengatakan bahwa modal utama membangun sebuah bangsa adalah pendidikan. Pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan guru karena guru adalah kunci sukses pendidikan selain orangtua. Guru tak hanya sebatas profesi yang dijalani seperti air mengalir, melainkan merupakan sebuah profesi pendidik yang melahirkan generasi bangsa yang cerdas dan humanis.

Tulisan Mespin di majalah Gema edisi Juni 2016

Hampir setahun saya menjadi seorang guru. Pengalaman demi pengalaman saya dapatkan ketika bertemu dengan anak-anak. Saya semakin tahu bahwa menjadi guru tidak hanya sekedar mentransfer ilmu. Menjadi guru juga tidak hanya bisa marah ketika anak-anak tidak patuh, atau main pukul ketika anak tidak mengerjakan PR, atau memberikan hukuman fisik jika anak masih nakal di kelas ataupun di sekolah. Tetapi menjadi guru adalah menjadi teman, sahabat, dan orangtua bagi anak-anak dalam belajar. Berdinamika bersama anak-anak tidak hanya membuat saya semakin mencintai pekerjaan saya sebagai guru, tapi melatih diri saya untuk menjadi guru yang lebih mengenal ratusan sifat yang berbeda-beda. Dalam setiap kesempatan mengajar dan mendidik, saya selalu mengingat dan menerapkan 3 semboyan yang sudah diwariskan oleh tokoh pendidikan kita Bapak Ki Hajar Dewantara. Semboyan Ki Hajar Dewantara ini senantiasa menjadi bekal saya sebagai pendidik dalam mencerdaskan generasi muda menjadi generasi yang unggul, berkualitas, cerdas dan humanis.

Dalam perjuangannya terhadap pendidikan bangsanya, Ki Hajar Dewantara mempunyai semboyan, yaitu pertama: Tut Wuri Handayani, yang artinya dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan. Guru zaman sekarang selain mengajar dan mendidik, juga harus bisa memberikan motivasi atau dorongan kepada siswa agar mereka mempunyai daya juang yang tinggi, sifat yang optimis dan pantang menyerah dalam hidupnya. Guru tidak harus berdiri di depan sebagai satu-satunya yang benar tetapi menjadi orang pertama yang mendorong anak-anak agar mempunyai semangat yang tinggi dalam menjalani kehidupannya sebagai manusia. Kedua: Ing Madya Mangun Karsa yang artinya, di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide. Guru harus selalu berada di tengah-tengah anak-anak untuk menjadi pencipta dan penggagas. Kehadiran guru harus selalu membawa dampak positif dalam kehidupan anak-anak sehingga kelak mereka menjadi pribadi yang kreatif dan kaya ide. Ketiga: Ing Ngarsa Sung Tulada, yang artinya, di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik. Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan kita, terutama di sekolah-sekolah Taman Siswa. Semboyan ini menjadikan dunia pendidikan kita sebagai pendidikan yang berkarakter sehingga nilai-nilai karakter dapat dihidupi oleh masing-masing pribadi. Tuntutannya adalah setiap guru wajib memiliki integritas dan karakter yang kuat agar guru bisa menjadi contoh dan teladan yang sesuai bagi anak-anak.

Seperti apa yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: Bapak Muhadjir Effendy dalam pidato pada Upacara Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2017 bahwa konsep “Laka Telu” atau tiga peran yang dirumuskan dalam frasa Bahasa Jawa ini perlu dihayati kembali oleh para pendidik, pada saat di mana dunia pendidikan kita mengalami krisis keteladanan dan praktek pendidikan tidak lagi menginspirasi. Sementara dorongan dari arah belakang dari kepemimpinan pendidikan tidak disertai pemberian arah dan haluan untuk peserta didiknya.

Ketika dilihat-lihat, dibaca-baca, dan direfleksikan, ternyata semboyan yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara tidak hanya bermanfaat buat para guru. Tapi juga bagi kita semua. Misalnya, sebagai orang tua, kita harus bisa memberikan motivasi dan arahan yang baik kepada anak-anak di keluarga, agar anak kita semakin bersemangat dalam belajar banyak hal. Selain itu, tentu saja sebagai orang tua, atau yang lebih berpengalaman, tentu saja harus banyak memberikan ide dan prakarsa kepada buah hati kita. Dan yang paling penting, yaitu memberikan teladan. Baik guru dan orangtua haruslah menjadi sosok yang patut menjadi teladan bagi anak di sekolah maupun di rumah. Kelak ketika anak-anak ini dewasa mereka akan terbiasa dan siap untuk hidup bermasyarakat. Sebagai guru muda ini adalah pondasi dasar saya bahwa saya harus mencintai panggilan hidup ini dengan tulus. Saya berharap sebagai guru muda atau tunas muda pendidik bangsa, saya dapat menjadi agen perubahan yang bisa menciptakan pendidikan Mentawai yang berkualitas, unggul dan humanis. Perubahan pendidikan ke arah yang berkualitas ada di tangan pemuda-pemudi yang peduli terhadap pendidikan Mentawai. Tanpa kesadaran akan pentingnya pendidikan maka kita bersiap untuk kembali ke zaman batu.

Kecintaan terhadap dunia pendidikan sekaligus kecintaan terhadap daerah tempat kelahiran membuat saya ingin berbagi ilmu pengetahuan, ide/gagasan dan pengalaman di antara para murid yang saya didik setiap hari. Saya bangga menjadi orang Mentawai, bangga menjadi guru di Mentawai dan bangga menjadi guru bagi anak-anak Mentawai. Saya terinspirasi apa yang dikatakan oleh Haim Ginot seorang guru sekolah dasar di Israel (1947): “Mengajar bukan sebuah profesi. Mengajar adalah kegemaran.” Saya telah mencapai sebuah kesimpulan yang menakutkan bahwa saya adalah unsur penentu di dalam kelas. Pendekatan pribadi saya lah yang menciptakan iklimnya. Suasana hati saya lah yang membuat cuacanya. Sebagai seorang guru, saya memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membuat hidup seseorang menderita atau gembira. Saya bisa menjadi alat penyiksa atau pemberi ilham, bisa bercanda atau mempermalukan, melukai atau menyembuhkan. Dalam semua situasi, reaksi saya lah yang menentukan, apakah sebuah krisis akan memuncak atau mereda dan apakah seseorang akan diperlakukan sebagai manusia atau “direndahkan.”

Maju terus pendidikan Mentawai.

 

Tulisan asli diedit oleh Angel Li

369 Total Views 1 Views Today
Share.

About Author

Angel Li

Anggota KBKK dari Paroki Trinitas Cengkareng, Jakarta Barat; ikut bermisi ke Keuskupan Weetebula -Sumba dalam rangka Pekan Misi Nasional KKI-KWI.

Leave A Reply