KBKK Misi Mentawai – Kesan & Pesan Mereka

0

Kesan dan pesan Misi Mentawai KBKK di Sioban, Tuapeijat dan Siberut Selatan 21 Januari – 27 Januari 2018

Tulisan dari RD. Bernardus Lie, Romo Paroki Gereja St. Petrus Tuapejat yang juga menjadi PIC lokal Misi Mentawai KBKK:

  1. Kesan:
  • Kagum dan bangga akan perhatian dan Kasih KBKK terhadap daerah-daerah yang terpencil dan membutuhkan sentuhan kasih.
  • Salut! Baru ada kelompok kategorial dari ibukota yang mau menunjukkan solidaritas imannya bersama dengan umat sederhana di pelosok yang pasti sangat meneguhkan iman umat. Khususnya di Sioban, Tuapeijat, Betumonga dan Muara Siberut. Kehadiran dan kebersamaan KBKK sungguh membuat umat bersukacita dan bersemangat.
  • Saya kagum akan bangga akan semangat misi yang dimiliki oleh anggota KBKK yang hampir rata-rata sudah setengah baya tetapi semangatnya seperti orang muda. Salut!
  • Ada rasa sukacita yang mendalam di mana kita semuanya menyatu dalam persaudaraan sebagai sesama anggota gereja Katolik yang satu, walaupun berbeda bahasa. Sungguh indah tidak hanya dalam syair lagu tetapi boleh kita alami dan rasakan dalam setiap kegiatan yang KBKK lakukan di Mentawai.
  • Saudara-saudari semua luar biasa karena tahan banting dengan ombak dan badai, semoga di kehidupan sehari-haripun demikian adanya. Ada perasaan bersalah saya yang membuat saya stress waktu saudara/i mengalamai badai, saya cukup tersiksa, merasa kasihan, dll. Sepertinya saya yang membawa saudara/i ke situasi tidak nyaman. Maafkan saya tetapi saya kagum dan menjadi bahan khotbah saya melihat iman dan sikap saudara/i dalam menghadapi badai dan gelombang. Itulah perjalanan misi saya selama lebih dari setengah imamat saya. Saya bangga dengan anda semuanya. Sukses dan Tuhan memberkati dan menyertai jalan hidup kita masing-masing. Amin.
  1. Pesan:
  • Tetaplah SETIA dalam misi-misi selanjutnya karena Tuhan pasti menyertai kita seperti yang dijanjikanNya dan tetaplah tinggal dalam KASIHNYA lewat doa dan sharing Injil sebagai kekuatan MISI kita bersama.

Mohon maaf kalau selama kita bersama ada kata dan pelayanan saya kurang berkenan di hati saudara-saudari semuanya. Mari kita maju bersama untuk kemuliaan Tuhan kita. Salam, doa dan berkatku selalu.

RD.Bernardus Lie

 

Tulisan dari Mespin Zulian Samaloisa, Guru di SD St.Petrus, alumnus Universitas Sanata Dharma pemegang beasiswa KBKK, anggota KBKK generasi ketiga:

Misi yang berbuah sukacita. KBKK tak pernah berhenti memberi pengalaman hidup yang bermakna bagi diri saya sendiri dan orang lain. Pengalaman bagaimana saya bisa merasakan suka duka mereka yang saya jumpai. KBKK memberikan kesempatan indah untuk memulai misi pertama kali dalam hidup saya. Tak banyak yang saya tahu tentang bagaimana KBKK melakukan misi di pelosok-pelosok daerah yang membutuhkan pelayanan kasih melalui medis dan pembinaan iman. Tanpa keraguan, misi ini pun saya sambut dengan sukacita dan siap memberikan waktu, pikiran serta tenaga demi pelayanan kasih ini. Misi ini dimulai dari Paroki Sioban, Goisok Oinan dan Betumonga. Namun kisah pelayanan di Betumonga menjadi tempat yang paling berkesan untuk saya.

Seperti biasa, badai dan gelombang besar menjadi tantangan yang harus dihadapi agar sampai di tempat ini. Gelombang demi gelombang, siraman demi siraman air laut mengiringi perjalanan menuju Betumonga. Beberapa kali boat yang ditumpangi saling hantam menghantam dengan gelombang laut. Ketika suara hantaman gelombang berbunyi, tiba-tiba saya mendengar ada nyanyian syukur dan pujian yang dinyayikan oleh Ibu-Ibu di dalam boat tersebut. “Tuhan Yesus dahsyat, Engkau berkuasa menghardik gelombang yang sedang menggelora…” dan seterusnya… Begitulah beberapa lagu liriknya diganti dengan kata-kata tersebut. Dengan keyakinan yang kuat akhirnya kami sampai di Betumonga dengan selamat. Namun, sebelum boat bersandar, dari jauh masyarakat sudah bersiap menyambut kami di dermaga Betumonga yang sederhana. Sapaan hangat dari mereka kami balas pula dengan salam hangat persaudaraan.

Waktu pelayanan dimulai. Saya diberi kesempatan untuk membantu di bidang medis sebagai penterjemah bahasa karena sebagian masyarakat belum paham bahasa Indonesia dan para dokter pun buta dengan bahasa Mentawai. Selama mendampingi dokter dalam menjelaskan penyakit yang mereka derita, banyak pergulatan batin yang saya rasakan. Apalagi ketika melihat anak-anak kecil yang terserang penyakit TBC dan berbagai penyakit lain yang sangat berbahaya jika tidak segera mereka obati. Ingin menangis rasanya karena saya tidak mampu berbuat apa-apa untuk mereka sebagai sesama orang Mentawai. Anjuran dokter agar mereka dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah membuat saya semakin sedih karena saya tahu mereka akan kesulitan untuk pergi ke Tuapeijat. Untuk kehidupan sehari-hari saja mereka sudah susah, apa lagi harus ke Tuapeijat. Ongkos dan jarak tempuh menjadi penghalang. Ketika sampai di Tuapeijat mereka akan bingung harus tinggal di mana dan siapa yang membantu mereka untuk sampai di RSUD. Ah… saya menangis dalam hati memikirkan ini karena saya yakin mereka akan sulit untuk mewujudkan mimpi mereka berobat di RSUD Tuapeijat.

Hal lucu yang bisa saya lakukan waktu itu adalah hanya bisa mengajak mereka tertawa, bercanda, sekaligus merangkul mereka dengan kasih tulus dengan harapan mereka bisa sembuh secepatnya sambil mengatakan, “Berdoa juga sebelum minum obat yah Ina.” Ada rasa kerinduan yang mendalam agar saya bisa berguna bagi mereka yang saya jumpai. Melihat anak-anak yang terkena penyakit ini, saya langsung terpikir akan masa depan mereka, akan hari depan yang cerah, akan cita-cita mereka dan akan kehidupan mereka yang lebih baik. Sebagai putra daerah Mentawai, saya sadar ini merupakan tanggung jawab besar yang harus diwujudkan secara bersama-sama. Banyak pelajaran hidup yang bisa saya maknai dari perjalanan misi ini. Kebaikan yang saya terima dari warga Betumonga mengingatkan saya akan kasih KBKK yang luar biasa terhadap apa yang saya peroleh saat ini. Bagi saya, misi ini merupakan pelayanan di mana saya bisa berbagi sukacita bersama mereka yang mempunyai banyak keterbatasan. Semoga masa depan generasi Mentawai bisa menjadi tanggung jawab kami sebagai putera daerah yang terlebih dahulu merasakan keberhasilan. Salam.

Mespin Zulian Samaloisa

327 Total Views 3 Views Today
Share.

About Author

Angel Li

Anggota KBKK dari Paroki Matias Rasul, Duri Kosambi, Jakarta Barat; ikut bermisi ke Keuskupan Weetebula -Sumba dalam rangka Pekan Misi Nasional KKI-KWI.

Leave A Reply