Penggalangan Dana Kemanusiaan Bagi Para Pengungsi – Mari Berbagi Pada Sesama Yang Menderita

0

INFO KBKK

27 April 2018
Pertemuan Peduli Pengungsi
Aula St. Ignatius Lt.3
Gedung LDD Keuskupan Agung Jakarta

Peserta yang hadir:

  • RP. Justinus Sigit Prasadja, SJ (Direktur Pelaksana LDD KAJ)
  • RP. Ismartono, SJ
  • KBKK (Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan)
  • JRS (Jesuit Refugee Service)
  • Sant’ Egidio
  • PERDHAKI (Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia)
  • KMKI (Komunitas Medik Katolik Indonesia)
  • PSE Gereja Trinitas Cengkareng
  • FPP KAJ (Forum Pelayanan Penjara KAJ)
  • PSE Gereja Santa Maria Immaculata Kalideres
  • Sahabat Insani
  • FMKI (Forum Masyarakat Katolik Indonesia)
  • LDD KAJ (Lembaga Daya Dharma KAJ)

Suasana rapat di aula St.Ignatius LDD KAJ

Saat ini ada lebih kurang 350 orang pengungsi asal Somalia, Afganistan, Myanmar, Irak, Iran, Srilanka, Sudan dan Ethiopia dengan membawa beban yang berat. Rumah Detensi di Kalideres salah satu dari 14 Rudenim yang ada di Indonesia sudah tidak mungkin lagi untuk menampung pengungsi. 350 pengungsi ini sekarang tinggal di pinggiran jalan/trotoar di depan Rudenim Kalideres dengan mendirikan tenda-tenda seadanya.

Konteks pengungsi:
Pengungsi datang dari negara-negara yang beragam. Terpaksa pergi dari negaranya, tidak bisa kembali karena mengalami persekusi/pelanggaran HAM, bisa dibunuh/dipenjara/diculik karena alasan ras, agama, suku, kebangsaan, keanggotaan kelompok sosial tertentu dan pendapat politik yang berbeda. Mereka telah dicek oleh UNHCR (Unites Nations High Commission for Refugees), sehingga akan jelas alasan mereka melarikan diri dari negara masing-masing. Ketika sudah diverifikasi, mereka kemudian berubah status menjadi refugee/pengungsi. Anak-anak tidak bisa sekolah, orangtua tidak bisa bekerja. Seperti pengungsi yang berada di Kalideres, ada yang telah tujuh tahun menunggu. Pengungsi merupakan orang-orang yang penderitaannya berlipat ganda, pergi terpaksa karena keadaan yang tidak dikehendaki, sampai di tujuan terluntang-lantung, kelaparan dan anak-anak menjadi liar.

Kondisi para pengungsi di Kalideres, hidup di atas trotoar (Foto: wartakota.tribunnews.com)

Kondisi:
Sebenarnya ada rumah detensi imigrasi tetapi full capacity. Seperti kondisi di Kalideres. Imigrasi dapat menyediakan temporary housing dan community housing sambil menunggu resettlement yang tidak kunjung datang. Saat ini organisasi antar pemerintah bekerjasama dengan pemerintah memberi makan 8000 pengungsi, namun masih ada 5000 pengungsi yang belum diberi makan. Yang bisa dibantu JRS sekitar 700 orang. Pengungsi ini datang secara ilegal, membayar berkali-kali lipat biaya transportasi, bisa mencapai USD 7,000/orang, bahkan dengan cara diselundupkan. Ada yang meninggal di perjalanan, ada yang ditipu, ditolak, menyebabkan tingkat stress yang tinggi, membuat mereka selalu penuh kecurigaan. Mereka jarang mendapatkan telinga dan hati yang baik karena itu mereka memiliki banyak penyakit dan keluhan serta menjadi psikosomatis. (Gading – Jesuit Refugee Service)

Ria dan dr.Yosephine saat mengunjungi para pengungsi (Foto: Ria)

Solusi:
Ada dua solusi bagi para pengungsi:
1. Pulang ke negaranya bila negara sudah aman atau ditempatkan di negara ke-3. Yang sudah menerima pengungsi: Australia, Amerika,dll. Hanya saja negara-negara tersebut hanya bisa menerima pengungsi maksimal 600 orang/tahun.
2. Berintegrasi dengan lokal: mereka diberi KITAS atau KITAB. Negara Indonesia mengijinkan pengungsi untuk tinggal, sah secara hukum (Perpres 125 tahun 2016), tetapi negara Indonesia tidak mau memberi integrasi.

Saat ini, Paroki St.Maria Immaculata, Kalideres dan Paroki Trinitas, Cengkareng memberi makan siang pada hari Selasa dan Kamis untuk para pengungsi, berupa nasi kotak sejumlah 300-350 buah. Dan pada hari Sabtu pengungsi diantar ke klinik di gereja Trinitas untuk pengobatan (fasilitas klinik dan obat lengkap beserta dokter, tetapi tetap masih membutuhkan bantuan tenaga dokter agar waktu pengobatan bisa diperpendek).

Masalah:

  • Penyakit tidak bisa benar-benar disembuhkan jangka panjang karena kendala tidak terjaminnya kesehatan kehidupan.
  • Pengungsi berasal dari berbagai profesi yang baik sehingga sering berdebat soal obat yang spesifik/standard yang diinginkan mereka .
  • Untuk makanan, mereka hanya mau makan ayam, tidak mau daging atau ikan.
  • Terdiri dari bermacam-macam negara karena itu pada saat pembagian, mereka sering berebut, merasa diperlakukan tidak adil.
  • Hari Sabtu dan Minggu barang donasi berlimpah karena donatur sporadis yang datang tiba-tiba tanpa koordinasi. Tetapi pada hari Senin, Rabu dan Jumat karena tidak ada yang datang, pengungsi bisa tidak makan.
  • Untuk sanitasi mereka ke rumah penduduk menumpang mandi dengan membayar.

Prioritas bantuan:
1. Makanan
2. Kesehatan
3. Sanitasi

RP. Ismartono, SJ yang juga merupakan Eksekutif Komisi Hubungan antar Agama dan Kepercayaan (HAK) Konferensi WaliGereja Indonesia (KWI) ikut hadir dalam pertemuan hari itu memberikan kesimpulan dari pembicaraan:

  • Gugus ke-1: korban, data siapa mereka, di mana mereka. Dengan sistem pemberian kupon maka akan ada pemerataan.
  • Gugus ke-2: penolong dengan kekuatan masing-masing ingin berbuat baik.
  • Gugus ke-3: kebutuhan korban berupa makan, psychological, kesehatan, sanitasi, bebas dari tempat itu (kebutuhan final).
  • Gugus ke-4: bahan apa yg kita miliki; paroki (sebagai ujung tombak), hardware, software (adm, rekanan, jaringan), brainware (pemikiran).
  • Gugus ke-5: alat-alat yang dipakai menolong, yang di Paroki Trinitas bagaimana diperkuat oleh yang lain, dokter-dokter diberdayakan dan kepandaian ditularkan ke yang lain.
  • Gugus ke-6: siapa pendukung di belakang semua ini. Lalu perumusan dan pembagian tugas. Kemampuan administratif kelompok akan diuji. Contoh: bila ingin donasi, harus punya rekening dan orang yang bisa mempertanggungjawabkannya.

RP. Justinus Sigit Prasadja, SJ tengah mengajak setiap komunitas untuk memberikan dukungan

Hasil pertemuan:
1. Susteran RGS siap menerima perempuan hamil tanpa suami.
2. Suster Irena, OSU akan mendampingi psikologi pengungsi (Senin dan Rabu)
3. Diusulkan kepada Sant’ Egidio untuk mendampingi psikologi anak-anak pengungsi (Pak Suko koordinasi dengan Relawan SELASIH untuk mencarii tempat) dan mengupayakan makanan untuk pengungsi.
4. Diusulkan pelayanan kesehatan di Paroki Cengkareng menambah hari praktek.
5. RP. Ismartono, SJ bersedia membantu untuk pemberdayaan/Empowerment kepada kelompok Relawan SELASIH dalam meningkatkan administrasi dan legalitas.
6. LDD KAJ akan mengusahakan memberi perhatian kepada kelompok Relawan SELASIH agar semangat kerelawanannya tetap terjaga.
7. KBKK akan menghimpun dana di rekeningnya, kemudian diserahkan ke rekening Paroki Trinitas, Cengkareng (catatan : sejak uang pertama yang masuk rekening KBKK wajib dilaporkan), begitupun dengan dana yang telah ditransfer ke rekening Paroki Trinitas.
8. Memetakan/maping persoalan atau masalah-masalah serta kebutuhan pengungsi terlebih dahulu sebelum membantu pengungsi.
9. Harus ada progress meeting.
10. Pertemuan berikutnya tanggal 4 Mei 2018 jam 09.00-11.30 WIB.
11. Sementara menunggu sampai tanggal 4 Mei 2018, masing-masing lembaga dapat memikirkan akan membantu/masuk di bagian/pelayanan pangan, sanitasi atau kesehatan. (Rendi.S – BPM-LDD)

Saat ini Paroki Trinitas, Cengkareng memerlukan dana kurang lebih 4-5 juta rupiah/1 kali kunjungan ke pengungsi (membawa makanan dan biaya untuk pengobatan yang berupa transportasi dan obat-obatan). Sebulan biaya yang dibutuhkan kurang lebih 40-50 juta rupiah.

KBKK mengajak sahabat misioner yang tergerak hati untuk membantu misi kemanusiaan ini dengan ikut berbela rasa dan memberi dukungan dana yang akan disalurkan langsung kepada LDD (Lembaga Daya Dharma) Keuskupan Agung Jakarta, sebagai lembaga yang memimpin dalam kelompok Peduli Pengungsi ini. Dana dibutuhkan untuk mendukung gerak misi yang sedang dilakukan demi kemanusiaan untuk para pengungsi. Meskipun berbeda agama dan keyakinan, kita melihat wajah Kristus pada wajah-wajah mereka yang menderita.

“Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” (Mat 25: 35-36)

Bantuan dapat disalurkan:
Rekening YKBKK
BCA 0653602020
Berita: Pengungsi

Mohon dicantumkan berita untuk setiap donasi yang dikirimkan, mengingat YKBKK bukan hanya menampung penggalangan dana untuk satu pihak saja, agar penyaluran dana tepat sasaran.

Terima kasih. Tuhan berkati setiap niat baik.

Salam misioner,
-Angel-
Ketua Umum KBKK

315 Total Views 1 Views Today
Share.

About Author

Angel Li

Anggota Komisi Dokominfo KBKK Periode 2018-2023

Leave A Reply