Rumah Kehidupan Keuskupan Palangka Raya, Akhirnya Resmi Dibuka

0

Kapan rumah sakit Katolik didirikan, Bapa Uskup?

Berawal dari pertanyaan tersebut, lahirlah dorongan untuk mendirikan RS. Betang Pambelum. Pendirian rumah sakit Katolik milik Keuskupan Palangka Raya ini ternyata harus melalui proses waktu yang cukup panjang, dua belas setengah tahun. Juga menghadapi banyak tantangan serta kesulitan. Proses dimulai dari mencari lahan yang tepat untuk mendirikan sebuah rumah sakit Katolik (21,296 M2), kemudian dengan pembentukan panitia pembangunan (23 Desember 2005) dan pencarian dana. Penggalangan dana dilakukan baik melalui umat di lingkungan, stasi, paroki, seluruh keuskupan, maupun di luar keuskupan, hingga ke luar negeri (bantuan dana dari CEI, Conferenza Episcopale Italiana, Konferensi Waligereja Italia) serta juga dana dari pemerintah setempat. Namun ketika pembangunan fisik mencapai 70%, disadari bahwa masih diperlukan banyak hal. Mulai dari perabotan dan alat-alat medis, juga ditemukan kesulitan yang menyangkut perekrutan serta prasarana lainnya seperti apotek dan laboratorium. Keuskupan juga tidak memiliki tenaga yang mengerti dengan baik seluk-beluk semuanya ini. Deretan masalah tehnis ini membuat usaha pembangunan rumah sakit dan rencana penyelesaiannya seperti masuk dalam hutan belantara yang rumit yang belum kelihatan ujungnya.

Foto Juni 2017, RS Betang Pambelum masih dalam proses pembangunan (tampak luar)

Fajar menyingsing, arah penyelesaian masalah yang tiba-tiba muncul

Dalam buku Sikap Pastoral Gereja Terhadap Orang Sakit yang ditulis sendiri oleh Mgr.A.M. Sutrisnaatmaka, Msf, beliau menyatakan bahwa campur tangan Tuhan lah yang akhirnya menyelesaikan semua masalah dan kesulitan dalam usaha pembangunan rumah sakit. Buku tersebut dibagikan pada saat Grand Opening RS. Awal Bros Betang Pambelum kemarin, Sabtu 07 Juli 2018. Mgr.A.M.Sutrisnaatmaka, Msf menuliskan bahwa ternyata Tuhan memiliki rencana tertentu ketika beliau dihubungi dr.Irene Setiadi (Pendiri KBKK dan anggota Pembina KBKK saat ini) dan diminta kesediaannya untuk menjadi Moderator KBKK (Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan) pada tahun 2004. Sampai saat ini Uskup Palangka Raya ini masih menjabat sebagai Moderator KBKK dan sekaligus sebagai Ketua Pembina YKBKK (Yayasan Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan).

Mgr.A.M.Sutrisnaatmaka, Msf memberkati patung St.Aloysius Gonzaga (lambang pengorbanan untuk orang sakit menular) yang berada di depan RS.Awal Bros Betang Pambelum

Salah satu visi KBKK: Membantu “mengadakan” rumah sakit yang berstandar nasional di setiap Keuskupan agar para Imam, Biarawan, Biarawati bisa memperoleh fasilitas kesehatan yang baik, tanpa harus ke Jakarta

Dalam wawancara bersama dr.Irene Setiadi pada tanggal 28 Mei 2017, pada saat KBKK mengadakan misi Palangka Raya, beliau menceritakan kisah mengenai revitalisasi RS. St.Elisabeth, Sambas. Rumah sakit yang dikelola oleh Kongregasi Fransiskan Sambas (KFS) sejak 1924 ini merupakan sebuah rumah sakit misi. Sesuai dengan visi KBKK, maka melalui Pokja Kesehatan (sekarang Komisi Kesehatan), KBKK memulai misi di bidang kesehatan ini, dengan RS.St.Elisabeth sebagai pilot project. Dengan meminta bantuan dari Prof.Yos E.Susanto, PhD, CFA, yang merupakan orang yang memiliki spesialisasi di bidang hospital management dan pembangunan baru rumah sakit, maka dimulailah proses revitalisasi pada bulan Januari 2015. Dengan target waktu satu tahun, diharapkan RS.St.Elisabeth yang saat itu dalam kondisi defisit, dapat mengalami perbaikan. Pembenahan mulai dilakukan dari pemberian semangat etos kerja, renovasi gedung agar mencapai standar tertentu, memperbaharui alat-alat medis yang sudah ketinggalan zaman serta perbaikan sistem manajemen. Singkat cerita pada bulan Januari 2016, KBKK kembali datang ke RS.St. Elisabeth untuk mengadakan promosi bagi rumah sakit dengan cara bakti kasih: pengobatan gratis dan pasar murah serta memberikan bantuan langsung kepada masyarakat. Dan syukur kepada Allah atas penyertaanNya, pada bulan Juni 2016, RS.St. Elisabeth telah memperoleh akreditasi D dan akhirnya dapat dilepas untuk bisa beroperasi sendiri, hingga saat ini.

Penandatanganan Prasasti oleh Prof.Yos E.Susanto, PhD, CFA (Komisaris Utama RS Awal Bros) dengan Mgr.A.M.Sutrisnaatmaka, Msf (Uskup Palangka Raya)

Berangkat dari pengalaman revitalisasi RS. St.Elisabeth, Sambas itulah maka dr.Irene Setiadi merasakan gerakan hati untuk bisa ikut membantu proses pembangunan rumah sakit milik Keuskupan Palangka Raya. Mengingat juga bahwa KBKK sering melakukan kegiatan misi di Palangka Raya dan Bapa Uskup juga merupakan orang yang banyak memberikan bimbingan pada kelompok misionaris awam ini, maka dr. Irene mengajak Prof. Yos E.Susanto, PhD, CFA, yang ternyata langsung menerima ajakan tersebut. Maksud tersebut kemudian disampaikan kepada Mgr.A.M.Sutrusnaatmaka, Msf dan mendapat sambutan yang baik. Bapa Uskup kemudian mengundang dr.Irene Setiadi dan Bapak Gunawan Petrus (Ketua Komisi Karya Misioner KBKK sekarang) serta Prof.Yos E.Susanto, PhD, CFA (Komisaris Utama RS Awal Bros) ke Palangka Raya untuk bertemu panitia. Setelah melakukan beberapa kali pertemuan akhirnya dibuatlah MOU antara RS.Awal Bros dan Keuskupan Palangka Raya.

Perayaan Ekaristi sebelum acara Grand Opening RS.Awal Bros Betang Pambelum

Motto KBKK: Kasih Melakukan Segalanya

Dalam kata sambutannya pada acara Grand Opening RS. Awal Bros Betang Pambelum, Prof. Yos E.Susanto, PhD, CFA mengatakan rumah sakit ini dibuat benar-benar bagus untuk standar tingkat provinsi. Salah satu peralatan canggih yang diadakan adalah CT SCAN 128. Dan ke depan akan dilengkapi lagi dengan alat-alat medis lainnya yang sesuai dengan standar rumah sakit tingkat provinsi. Namun Prof.Yos menekankan faktor lain yang juga penting adalah SDM. Alat canggih dan sertifikasi memang penting namun yang terpenting adalah sikap sehari-hari dan pengelolaan secara profesional. Juga karena mengingat ini adalah rumah sakit milik keuskupan maka tingkat sosialnya harus dipentingkan. Sesuai juga dengan apa yang dikatakan dr.Irene Setiadi mengenai visi dan misi KBKK: melayani dengan kasih. Jadi rumah sakit tidak hanya memiliki tehnologi canggih namun juga unggul dalam pelayanan. Karena itu rumah sakit ini juga akan bekerjasama dengan BPJS dan Pemda.

Prof.Yos E.Susanto, PhD, CFA (Komisaris Utama RS Awal Bros) memberikan kata sambutan

Betang Pambelum: Rumah Kehidupan

Betang: Rumah Panjang dalam adat budaya Dayak yang merupakan rumah tempat tinggal bersama. Pambelum: Kehidupan. Rumah sakit ini mengusung motto: “Sahabat dan Penolong Dalam Memelihara Kesehatan”, dengan gambar orang Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37). Gambar di atas akan kita temukan di dinding saat melangkah masuk pintu utama RS Awal Bros Betang Pambelum. Dalam tulisannya Mgr.A.M.Sutrisnaatmaka, Msf mengatakan: pastoral untuk orang sakit tentu diresapi dengan semangat yang sama seperti yang muncul pada kisah orang Samaria yang murah hati. Pelayanan itu tanpa pamrih dengan kesembuhan dan keselamatan orang yang ditolong. Pengorbanan yang tanpa perhitungan dan ketulusan yang menyertainya yang menjadi dasar untuk menjadi sesama dalam mendampingi para penderita. Itulah yang kiranya menjadi latar belakang pelayanan pastoral dalam mewujudkan pembangunan rumah sakit Katolik di Keuskupan Palangka Raya.

Mozaik Orang Samaria yang baik hati dengan motto: Sahabat dan Penolong dalam memelihara kesehatan

Selamat dan sukses, KBKK ucapkan kepada Keuskupan Palangka Raya dan RS.Awal Bros untuk pembukaan RS. Awal Bros Betang Pambelum. Semoga Tuhan melimpahkan rahmatNya dalam perjalanan rumah sakit ini agar bisa menjadi sebuah rumah kehidupan bagi umat Katolik dan masyarakat Palangka Raya.

Tulisan: Serviam in caritate, yang artinya saya melayani dengan cinta

KBKK mengucap syukur kepada Tuhan karena telah memberikan kesempatan untuk bisa menyaksikan dan ikut mengambil bagian dalam kelahiran karya misi di bidang kesehatan ini. Semoga api misi terus menyala dalam diri setiap anggota KBKK dan seluruh umat Katolik pada umumnya, dalam menjawab panggilan perutusan dari Tuhan sendiri. Tuhan memberkati setiap niat baik.

Salam misioner,
Angel

419 Total Views 4 Views Today
Share.

About Author

Angel Li

Anggota Komisi Dokominfo KBKK Periode 2018-2023

Leave A Reply