Misionaris-misionaris Muda, Terang dan Garam Bagi Agats

0

“Kaka ini foto ade-ade yang lagi membaca. Untuk sementara waktu taman bacanya kami buka di rumahnya kami bagi siapa yang mau membaca biasanya mereka ke rumah.”

Buku-buku sumbangan donatur KBKK telah sampai di Bayun

Sebuah pesan messenger masuk berikut foto-foto kiriman dari Agats. Rosalina Komberem adalah seorang anak Agats pemegang beasiswa KBKK yang telah lulus tahun 2017 studi keperawatan (D3) di STIK Stella Maris Makassar. Saat ini Rosa bersama tiga teman seangkatannya (Apolonia M.Silubun, Eva Evinsia Ayum Aitan, Theresia Yuliana Lendeng) telah berkarya di Klinik St.Odilia, Bayun yang dikelola oleh Yayasan milik Keuskupan Agats.

Bersama Suster ikut membina anak-anak SEKAMI

Pembagian makanan dalam kegiatan bersama anak-anak (Rosalina Komberem)

Hal yang patut disyukuri dari perawat-perawat muda Agats ini, mereka memiliki semangat misioner yang tinggi. Bukan hanya bertugas menjadi perawat di Bayun, tapi pada hari Minggu mereka juga membantu Pastor dan Suster membina anak-anak Agats (SEKAMI). Situasi sebagian besar anak-anak di sana yang bahkan dalam usia remaja tidak dapat membaca dan menulis membuat keprihatinan mereka muncul. Beberapa bulan yang lalu Theresia yang lebih akrab dipanggil Yuli, mengirimkan sebuah pesan lewat WA menyatakan harapan dan impiannya agar dapat membuka sebuah taman baca di Bayun untuk anak-anak. Namun hingga hari hal tersebut belum terwujud, karena kendala jaringan (Bayun tidak memiliki sinyal sama sekali), mereka hanya bisa berkoordinasi ketika sebulan sekali pergi ke Agats untuk membawa laporan klinik.

Masih banyak anak-anak Agats yang tidak dapat membaca dan menulis meskipun sudah remaja

KBKK melalui tangan-tangan donatur telah melakukan pengiriman buku-buku anak-anak dan telah digunakan sementara oleh mereka dalam membantu anak-anak belajar membaca.

Rosa dan Mimin di pantai Bayun bersama anak-anak

Rosalina Komberem berkisah dalam pesan messengernya:

Bayun merupakan suatu desa terpencil di kabupaten Asmat-Papua. Penduduknya berkarakter keras merupakan ciri khas dari masyarakat Bayun. Masyarakat Bayun pada umumnya berpenghasilan sebagai nelayan dan petani. Mereka memiliki sebuah pantai yang unik, di mana pantai ini memiliki ciri khas khusus dari berbagai jenis pantai lain di Papua yaitu pada bulan-bulan tertentu pantai Bayun akan berubah menjadi pantai lumpur yang sangat dalam kemudian akan berganti menjadi pasir pada bulan berikut.

Pemberian obat cacing kepada anak-anak TK Roh Kudus, Bayun

Kondisi Klinik St.Odilia (Rosalina Komberem)

Selain itu di kampung Bayun terdapat Klinik yang dikelola oleh yayasan Keuskupan Agats dengan nama Klinik St.Odilia. Klinik ini terlihat sangat kecil dan sederhana serta masih banyak kekurangan, tetapi dari sisi lain Klinik St.Odilia merupakan satu-satunya sarana kesehatan yang ada di kampung Bayun. Dengan adanya Klinik ini juga, masyarakat Bayun sangat terbantu dalam fasilitas kesehatan. Selain itu di Klinik ini memiliki petugas yang sangat sedikit di mana hanya  tersedia satu orang dokter, satu orang bidan dan empat orang perawat. Sehingga dalam proses pelayanan kami sangat kewalahan saat pasien banyak berdatangan karena pasien-pasien tersebut bukan hanya penduduk Bayun saja melainkan dari berbagai kampung yang berada di sekitar Bayun.

Theresia Yuliana Lendeng (Yuli) bertugas menerima pasien

Eva Evinsia Ayum Aitan memeriksa pasien di klinik, Bayun

Dalam proses pelayanan selama tujuh bulan sudah banyak jenis penyakit yang sering kami jumpai yaitu antara lain: penyakit Ispa, Frambosia, Gizi buruk dan Malaria. Penyakit-penyakit ini timbul akibat kurangnya pengetahuan tentang pentingnya kesehatan dan kami memiliki keterbatasan dalam berbahasa karena penduduk pada umumnya masih menggunakan bahasa daerah yang membuat kami petugas kesehatan mengalami kesulitan dalam mengadakan penyuluhan kepada masyarakat setempat.

Suasana malam di Bayun

Sesuatu yang membuat saya bangga di BKM Bayun, meskipun tidak ada penerangan tetapi semangat para petugasnya sangat tinggi,  tidak pernah berhenti memberikan pelayanan yang layak kepada pasien yang sangat membutuhkan. Contohnya  kepada pasien yang kondisinya gawat, diberikan rawat inap. Kami melakukan pelayanan dengan menggunakan solaser, kadang pelita dan senter. Kejadian yang luar biasa semasa pelayanan saya di BKM Bayun, meskipun dengan keadaan yang terbatas saya merasa senang karena bisa membantu dan menolong orang. Semua itu karena campur tangan dari Tuhan.

Suasana rawat inap di Klinik St.Odilia, Bayun dengan fasilitas seadanya

Demikianlah sepotong kisah perjuangan di Bayun, Agats. Semoga api misi terus berkobar sehingga kondisi kesehatan di Agats dapat membaik. KBKK masih terus berusaha mencetak lebih banyak perawat-perawat misionaris. Saat ini masih ada empat anak Agats yang sedang studi di STIK Stella Maris Makassar (Modestus K. Habn, Sargon Payofu, Maria Magdalena Hungan, Maria Maisella Katit). Dan tahun ini puji syukur kembali akan diberikan beasiswa kepada lima anak Agats, penerimaan tahun akademik 2018, untuk studi keperawatan S1 profesi ners di STIK Stella Maris. Terima kasih khususnya kami ucapkan kepada donatur tetap kelima anak ini, Ibu Lany Kwarso dari PD. Ambiente atas kepedulian dan niat baiknya.

Bagi Sahabat misioner yang ingin ikut serta dalam karya misi di bidang pendidikan ini, bisa memberikan dukungan berupa donasi ke:

Yayasan KBKK

BCA 0653602020

Berita: Beasiswa KBKK

Atas dukungan dan doanya, kami ucapkan terima kasih. Tuhan memberkati setiap niat baik.

Salam misioner,

Angel

 

173 Total Views 3 Views Today
Share.

About Author

Angel Li

Anggota Komisi Dokominfo KBKK Periode 2018-2023

Leave A Reply