Update (1) Situasi Terkini dan Penggalangan Dana Untuk Palu Dan Donggala

0

Sahabat misioner,

Data donasi yang telah masuk sementara hingga  Senin 02 Oktober 2018 ke rekening Yayasan KBKK:

1/Oct/18 NN, Ir. 5,000,000,-
1/Oct/18 Mega Indah 1,000,000,-
1/Oct/18 Widyawati Tirtaatm 500,123,-
1/Oct/18 Thenedy Susianto 2,000,123,-
1/Oct/18 Gunawan Setiadi 2,500,123,-
1/Oct/18 Yuliana Heilda 500,000,-
1/Oct/18 Lilyana A MS/Jaya 50,123,-
1/Oct/18 RS Vita 200,000,-
1/Oct/18 Stevia Laurensia 1,500,000,-
1/Oct/18 Enny Nursanti 1,000,000,-
1/Oct/18 Regita 100,123,-
1/Oct/18 Gagan Gunawan 20,000,123,-
1/Oct/18 Ermyta Gunawan 1,000,123,-
1/Oct/18 Lee Su Pheeng 500,123,-
1/Oct/18 Budisanto Tanoto 50,000,-
2/Oct/18 Asikin Martojuwono 750,123,-
2/Oct/18 Imam Tjahjono 1,000,123,-
2/Oct/18 Effendi Lohanata 1,000,000,-
2/Oct/18 Pepen, dr 2,000,000,-
2/Oct/18 Louis Indra, 2,500,123,-

TOTAL : Rp. 43,151,353,-

Donasi yang telah disalurkan Rp.10.000.000,- pada Minggu, 30 September 2018 kepada RD. Ramlan Abraham Mantow untuk dipergunakan membeli barang-barang kebutuhan pengungsi. Imam yang merupakan Pastor Paroki St. Petrus Kotaraya, Kevikepan Palu, Keuskupan Manado yang lebih akrab dipanggil Romo Echa ini telah memberikan laporan resmi penerimaan dan penggunaan dana tersebut, untuk dibelikan tikar foang untuk alas tidur para pengungsi di posko Gereja Katolik St.Maria, Palu.

Surat pertanggungjawaban dana dari Romo Ramlan Abraham Mantow

*Update penyaluran dana selanjutnya ke Keuskupan Manado, akan kami laporkan secara berkala.

Secara terpisah, KBKK pagi ini telah menghubungi RD. Will Thome, yang merupakan Pastor Paroki St.Paulus, Palu sekaligus juga Vikep (Vikaris Episcopalis) atau wakil Uskup Kevikepan Manado; RD. Joy Deri, Ketua Komisi PSE Keuskupan Manado; RD.Steven Lalu, Ketua Komisi Komsos Keuskupan Manado sekaligus Direktur Radio Montini Manado.

Sementara tiga posko dan dapur umum

Romo Will menginfokan bahwa jarak antara Gereja Katolik St.Paulus dengan Gereja Katolik St.Maria hanya sekitar satu jam perjalanan. Saat ini berkoordinasi bersama Keuskupan Manado dibuat tiga posko dan dapur umum untuk pengungsi, yaitu di: Gereja Katolik St.Maria, Gereja Katolik St.Paulus dan Desa Sidera (Sigi). Untuk bantuan Romo meminta KBKK berkoordinasi langsung ke Keuskupan Manado yang akan memimpin penyaluran bantuan.

Memilih tinggal di alam terbuka

Informasi dari Romo Joy yang semalam telah tiba di Gereja Katolik St.Maria, Palu bahwa pagi ini kembali terjadi gempa. Warga setempat masih tetap lebih memilih tinggal di emperan/alam terbuka karena gempa belum juga usai, sementara banyak rumah juga telah yang rusak berat dan tidak dapat dihuni lagi. Romo menyatakan keprihatinannya karena di sana belum ada pasar yang buka sehingga untuk menolong para pengungsi koordinasi dilakukan dengan paroki-paroki terdekat seperti Paroki Kotaraya yang mengatur pembelian barang-barang kebutuhan umum untuk pengungsi. Kondisi warga cukup terguncang dan belum ada tenaga medik.

Foto dari Romo Echa, saat penurunan barang-barang donasi di Gereja Katolik St.Maria, Palu

Puncak bencana terparah yang luput dari pemberitaan

Melalui Romo Joy, KBKK juga berkesempatan berbicara dengan Bapak Martinus Mite yang merupakan wakil ketua stasi di Stasi Jono Oge Kab.Sigi. Bapak Martinus yang baru saja tiba di Gereja Katolik St.Maria hari ini mengisahkan bahwa puncak bencana paling parah terjadi di kabupaten Sigi, ada empat titik yang hancur: Petobo, Jono Oge, Sibalaya dan Langaleso. Saat gempa, di pusat gempa semua yang ada hilang tertelan bumi. Jalan-jalan hancur, bergelombang. Beliau menyatakan kekecewaannya karena kondisi kabupaten Sigi ini sempat luput dari media dan belum mendapatkan bantuan pemerintah. Namun hal ini mungkin disebabkan oleh putusnya akses jalan serta jalur komunikasi. Para warga yang masih hidup, yang berada di pinggir pusat gempa bertahan beberapa hari ini dengan makan seadanya, dari sisa beras, ataupun ubi serta sayur-sayuran yang masih bisa ditemukan.  Sementara belum diadakan evakuasi untuk korban meninggal, karena tidak ada yang berani untuk masuk ke daerah yang telah hancur karena tidak mengetahui apakah kondisi tanah telah aman atau tidak. Sementara dibuat posko di daerah Biromaru yang memiliki kurang lebih 80 jiwa. Yang diutamakan adalah bantuan tenda, bahan makanan, obat-obatan dan perlengkapan bayi (karena banyak bayi dan Ibu hamil). Bapak Martinus mengatakan kondisi mereka seperti kembali ke titik nol, semuanya telah hilang.

Kondisi Palu saat ini

Romo Steven Lalu menginfokan bahwa Pemerintah memberi perhatian cukup serius, namun akses masuk Palu masih menjadi masalah, tidak aman ketika bantuan itu datang dari luar Palu, rawan dengan penjarahan. Sementara di kota Palu sendiri sasaran penjarahan adalah toko-toko. Sarana publik hampir semua rusak. Dari 7 titik gardu listrik, baru menyala 2 titik dan PLN masih terus berusaha. Sementara kekurangan paling parah adalah air bersih dan BBM. Namun juga sudah mulai ditangani pemerintah

Kondisi Mulai Membaik

Fokus utama saat ini adalah umat yang mengungsi di posko Gereja Katolik St.Maria, Palu yang jumlahnya berkisar 300-400 orang, karena tenaga yang ada masih sangat terbatas. Mereka masih tidur di halaman, karena khawatir akan gempa susulan. Sementara bantuan makanan didapatkan dari paroki Beteleme dan Tentena dengan menggunakan dana dari keuskupan. Keuskupan juga berencana akan menambah relawan lokal dari paroki terdekat (OMK). Kondisi bandara sendiri sudah dibuka untuk penerbangan umum (pesawat sipil – Wings) dan pesawat Hercules juga masih terus diterbangkan. Jarak Gereja Katolik St.Maria sendiri hanya sekitar 5-10 menit dari bandara. Romo Steven menilai kondisi Palu sudah mulai cukup aman (tetapi masih butuh koordinasi dan pengawalan tentara/aparat). Menanggapi berita-berita di media, Romo mengatakan pemberitaan di media berfokus pada titik-titik chaos, yang umumnya terjadi di jalan akses keluar masuk Palu.

Romo juga menyambut baik keinginan dari KBKK untuk turun dan membantu langsung ke lokasi bencana dan posko. Namun Romo meminta untuk dilakukan koordinasi terlebih dahulu, terutama dengan Keuskupan Manado. Menepis berita bahwa bandara saat ini juga tidak aman, Romo menceritakan kondisi yang terjadi sebelumnya. Warga menumpuk di bandara karena dianggap sebagai tempat yang aman (dijaga aparat), mereka tidur di halaman bercampur dengan orang-orang yang bergegas ingin meninggalkan Palu. Ketika ada pesawat Hercules yang mendarat, semua orang termasuk orang-orang yang kelaparan dan yang ingin segera pergi dari Palu, menyerbu pesawat. Namun sekarang situasi telah diamankan dan mulai pulih. Hanya saja evakuasi bagi yang meninggal belum bisa dilakukan maksimal karena sekarang pusat perhatian ditujukan kepada para warga yang masih hidup.

Demikian update yang didapatkan dari berbagai pihak yang langsung terlibat dalam situasi dan koordinasi untuk penanggulangan bencana Palu dan Donggala. Mari kita doakan terus saudara-saudari kita di sana, agar tetap dikuatkan dan segera dapat dipulihkan kondisinya.

Bagi sahabat misioner yang tergerak hati untuk meringankan penderitaan korban bencana Palu dan Donggala ini, dapat mengirimkan donasi ke:

Yayasan KBKK

BCA 0653602020

*Mohon tambahkan 123 pada akhir nominal transfer atau cantumkan berita: bencana

Atas ketergerakan hati dan kepedulian sahabat misioner, kami ucapkan limpah terima kasih. Tuhan memberkati setiap usaha dan niat baik.

Salam misioner,

Angel

 

392 Total Views 4 Views Today
Share.

About Author

Angel Li

Anggota Komisi Dokominfo KBKK Periode 2018-2023

Leave A Reply