Update Terbaru Tim KBKK Langsung Dari Palu

0

Sahabat misioner,

Tim KBKK yang terdiri dari dr.Irene Setiadi, Angel dan Dian berangkat ke Palu pada Senin 02.10 WIB, dengan pesawat transit ke Gorontalo, kemudian dilanjutkan ke Palu. Tiba di Palu, tim dijemput oleh Bapak Daud (umat) dan RP. Johanis Salaki, MSC (Pastor Paroki St.Maria), langsung diantar menuju ke gereja St. Maria yang menjadi posko untuk para pengungsi bencana Palu.

Suasana dapur umum posko pengungsi Gereja Katolik St.Maria, Palu

Di gereja sendiri telah ada posko kesehatan yang dibuka sepanjang hari, menerima pengungsi-pengungsi sekitar yang membutuhkan pengobatan. Ada relawan dokter yang berjaga, karena itu tim KBKK memutuskan untuk berkeliling, mengunjungi pengungsi di tenda-tenda, melakukan pengobatan keliling.

Tim KBKK bersama dr.Novi turun mengunjungi para pengungsi di tenda-tenda

Pengobatan Keliling Tenda-tenda Pengungsi

Setelah mempersiapkan obat-obatan, tim KBKK bersama dr.Novita Nursaina dari Pontianak, diantar oleh Bapak Daud berkeliling ke tenda-tenda pengungsi mulai dari sekitar gereja hingga ke daerah Sigi. Total lokasi yang dikunjungi berjumlah 7 lokasi.

Pengungsi mengambil air bersih dari galon yang disediakan di pinggir jalan

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah tenda di Pataba, yang dihuni oleh para pengungsi dari Petobo. Tim menanyakan keadaan kesehatan para pengungsi. Melakukan pengecekan tekanan darah/tensi jika dibutuhkan dan memberikan obat-obatan. Lalu kunjungan tim berlanjut ke tenda AURI. Seorang pengungsi bercerita mengenai rumahnya yang roboh, hanya bersisa puing. Di lokasi tersebut ada posko tim medik, yang merupakan orang dari puskesmas setempat, yang juga menyediakan obat-obatan, namun diakui kekurangan obat syrup untuk anak-anak. Pengobatan awalnya lebih banyak untuk luka-luka akibat bencana, kini lebih banyak pengobatan untuk penyakit ispa dan diare.

dr.Novi sedang melakukan tensi darah pada pengungsi

Lokasi ketiga adalah tenda yang didirikan oleh Adhi Karya. Tenda ini baru berdiri dua hari, sebelumnya para pengungsi berada di sana tanpa atap. Di dalam tenda tim menemukan satu orang batita dengan kondisi demam tinggi. Dr.Irene menyarankan agar Bapak anak tersebut datang ke posko kesehatan di gereja St.Maria, untuk mengambil obat panas yang kebetulan tidak dibawa tim. Kondisi anak ini mengkhawatirkan, karena situasi hidup di tenda juga kurang baik. Saat tim turun hawa panas menyengat, dengan suhu yang cukup tinggi.

Duduk bersama dengan pengungsi, mendengarkan mereka berkisah

Mobil lalu meluncur ke arah Petobo dan singgah di sebuah tenda di pinggir jalan raya. Ibu yang muslim berkata semua baik-baik saja, yang terpenting sholat tetap dijaga. Suaminya berkata saat ini hanya mencoba bertahan hidup. Palu saat ini sedang sakit, tidak akan mereka tinggalkan. Lagipula mereka sudah 10 tahun hidup di Palu. Mereka berasal dari Sidrap. Mereka berharap pada Bapak Jokowi, karena jika bukan beliau, siapa lagi yang akan memperhatikan nasib masyarakat.

Pengungsi-pengungsi Jono Oge

Dari sana tim kemudian mengarah ke daerah Sigi dan menemukan lokasi tenda-tenda pengungsi dari Jono Oge. Seorang Bapak bercerita keluarganya meninggal 7 orang karena musibah likuifaksi (gempa dan lumpur). Si Bapak dan anak perempuannya sempat terseret oleh lumpur, tenggelam di dalam lumpur namun kemudian terangkat naik kembali dan berhasil selamat. Namun naas, yang lain terseret dan menghilang. Luka-luka di tangan, kepala dan kaki Bapak maupun anaknya itu mulai mengering.

Bapak dan anak perempuan yang berhasil selamat dari bencana likuifaksi, namun kehilangan 7 anggota keluarga

Di lokasi ke enam, tim berkunjung ke seorang Ibu bersama dua anak kecil, yang merupakan cucu-cucunya. Ibu dari anak-anak itu sendiri meninggal saat musibah likuifaksi. Sementara suami dan anak laki-lakinya (Bapak anak-anak itu), sedang pergi mencari sayuran untuk bisa dimasak. Menurut si Ibu, setiap hari ada yang mengirimkan makanan dan minuman. Beliau sempat menangis sangat mengingat tidak memiliki apa-apa lagi, semua hartanya telah hilang, kembali ke nol.

Seorang pengungsi berterima kasih atas kunjungan tim

Di lokasi tersebut banyak tenda-tenda pengungsi dari Jono Oge. Menurut informasi pengungsi di sana, tim medis dari Pertamina sudah datang. Masyarakat Jono Oge kebanyakan merupakan pendatang dari Jawa. Jono Oge sendiri merupakan daerah pertanian yang subur sebelum ditimpa bencana.

Kondisi gereja yang memprihatinkan

Lokasi ketujuh adalah gereja Katolik stasi Sidera. Kondisi gereja yang belum selesai dibangun, tampak memprihatinkan dengan puing-puing bangunan yang belum dibereskan. Di seberang gereja ada balai warga yang dipakai pengungsi atas seijin pihak pemerintah. Seorang Bapak tua mengisahkan kejadian gempa yang disusul dengan semburan lumpur (likuifaksi). Saat kejadian beliau sedang berada di dalam rumah bersama cucunya. Beliau terlempar keras tiga kali pada saat gempa yang berlangsung hanya kurang dari 1 menit. Saat lari keluar ia merasa seperti dikejar setan, lari terbirit-birit. Ada kakak beradik pulang bekerja mengendarai motor. Saat gempa, tanah di hadapannya terbuka dan muncul lumpur, keduanya tenggelam bersama motor disaksikan orang-orang. Adik jatuh di dalam lubang lumpur. Kakak juga sempat masuk ke dalam lumpur, terbawa arus namun kemudian dapat memegang batang pohon sehingga selamat. Sampai saat ini banyak orang mati di Jono Oge, namun tanah sudah mengeras tidak dapat digali lagi. Polisi memakai anjing pelacak, untuk mengendus mayat, tetapi banyak mayat yang tertimbun jauh di dalam tanah. Kondisi tanah di atas telah kering dan mengeras, namun diyakini di bawah masih penuh lumpur.

Truk air datang mengisi ember-ember air di pinggir jalan

Lokasi terakhir ini sudah cukup memadai, dengan listrik yang mulai menyala dari kemarin dan ketersediaan genset. Begitupun dengan supplai air bersih dan kiriman beras. Hanya saja lokasi kurang bersih dengan melihat banyaknya lalat yang mengerumuni lokasi tersebut. Pengungsi sendiri mereasa bersyukur atas tindakan cepat pemerintah menangani bencana ini.

Petobo, Daerah Bencana Likuifaksi

Dalam perjalan pulang, tim sempat singgah di daerah Petobo, menyaksikan sendiri kondisi tanah yang turun dan retak terbelah. Juga lokasi pusat gempa, di mana rumah-rumah warga Petobo amblas ke dalam tanah. Terlihat lokasi dipenuhi oleh warga sekitar yang ingin tahu, juga tim evakuasi yang datang dari luar negeri. Usaha evakuasi masih terus dilakukan.

Jalan-jalan yang terpecah dan turun di Petobo

Kondisi Petobo di mana rumah-rumah hancur karena likuifaksi

Secara umum, para pengungsi mendapatkan banyak bantuan dari berbagai sumber, baik dari pemerintah maupun swasta, dari lokal maupun internasional. Untuk supplai makanan, minuman, air bersih serta pakaian dan obat-obatan. Namun kondisi setiap pengungsi berbeda-beda. Ada yang hidup di tenda yang cukup bagus, dengan kondisi layak di mana ukuran tenda cukup besar dan mampu menahan hawa panas serta hujan. Namun ada juga yang tinggal di tenda seadanya, yang mana bahan tenda tidak mampu menahan terik matahari, menyebabkan udara/suhu dalam tenda menjadi sangat tinggi dan kondisi ini dapat mempengaruhi ketahanan tubuh mereka. Untuk selanjutnya sangat dibutuhkan pengaturan dan penyediaan rumah serta tempat tinggal yang lebih layak bagi mereka, agar kehidupan mereka bisa kembali normal seperti sebelumnya.

Bagi sahabat misioner yang tergerak hati untuk meringankan penderitaan korban bencana Palu dan Donggala ini, dapat mengirimkan donasi ke:
Yayasan KBKK
BCA 0653602020
*Mohon tambahkan 123 pada akhir nominal transfer atau cantumkan berita: bencana

Atas ketergerakan hati dan kepedulian sahabat misioner dan khususnya para donatur, kami ucapkan limpah terima kasih. Tuhan memberkati setiap usaha dan niat baik.

Salam misioner,
Angel

1468 Total Views 1 Views Today
Share.

About Author

Angel Li

Anggota Komisi Dokominfo KBKK Periode 2018-2023

Leave A Reply