Update Hari Kedua Tim KBKK di Lokasi Bencana Palu

0

Sahabat misioner,

Selasa, 09 Oktober 2018 tim KBKK di Palu hari ini memulai kegiatan dengan singgah di pinggir jalan, di mana mulai tampak pedagang-pedagang sayuran menggelar dagangan mereka. Tim membeli beberapa macam sayuran untuk dibawa dalam kunjungan ke tenda-tenda pengungsi.

Membeli jeruk untuk dibawa ke tenda-tenda pengungsi

Lalu Pak Daud membawa tim menyusur ke arah pegunungan, mencoba menemukan pengungsi-pengungsi yang barangkali tidak terjangkau oleh bantuan. Ada tenda-tenda yang dihuni oleh masyarakat dari Kelurahan Tondo. Mereka bercerita bahwa hari pertama mengungsi, mereka tidur di samping puskesmas. Keluarga mereka semua terpisah, namun kini sudah terkumpul kembali. Kondisi di tenda cukup baik, makanan tercukupi, air dan listrik ada.

Kondisi tenda pengungsi

Kondisi sekitar pergudangan

Perjalanan kemudian dilanjutkan menyusuri jalan Soekarno Hatta, tepatnya di pusat pergudangan Palu Indah. Pemandangan mengenaskan terhampar di sepanjang kiri kanan jalan. Truk, mobil, container terbalik dan penyok. Ruko-ruko dengan tembok hancur hingga tembus ke belakang, di mana laut berada. Ada aparat kepolisian yang mondar-mandir menjaga tempat itu, yang tampaknya telah juga menjadi sasaran penjarahan. Tsunami memporakporandakan tempat itu, sepanjang mata memandang hanya tumpukan sampah dan puing-puing baik bangunan dan kendaraan. Sementara di udara pun tercium bau kurang sedap.

Berbagi sayur-sayuran yang sulit didapatkan

Lalu di Layana, tim menemukan pengungsi-pengungsi dari RT 1, Dupa. Awalnya mereka mengungsi di samping kandang kambing. Namun sekarang mereka sudah memasang tenda dan hidup lebih baik. Hanya saja mereka mengeluhkan bahwa harga gas masih tidak normal, berkisar 3x lipat dari harga normal, sehingga mereka memilih memasak menggunakan kayu bakar. Tim memberikan sayur-sayuran dan pakaian dalam. Mereka sangat berterima kasih karena mengakui untuk pakaian dalam, sangat sulit untuk didapatkan.

Mamboro Luluh Lantak

Perjalanan lalu dilanjutkan menyusuri desa Mamboro, Palu Utara di mana tsunami menyapu bangunan di kiri-kanan jalan. Pak Daud tercengang apalagi ketika menemukan rumah sahabatnya juga ikut hancur. Pak Daud mengajak tim untuk mengecek kondisi sahabatnya itu di Taipa, rumah orangtua sahabatnya. Puji Tuhan, seluruh keluarga selamat dan dalam kondisi yang baik.

Kondisi di sepanjang Mamboro

Endang, sahabat Pak Daud itu bercerita kepada tim tentang hari naas tersebut. Ketika gempa terjadi, terdengar kabar bahwa air laut mulai naik. Panik, ia mengajak anaknya (Sifa) dan suaminya yang saat itu tidak mengenakan baju untuk lari naik ke tempat yang lebih tinggi. Sifa baru selesai mandi, juga masih dalam keadaan telanjang. Ketika sudah berada di atas, mereka melihat air laut naik kembali, dengan ketinggian yang hampir mencapai pesawat (mereka melihat sebuah pesawat tepat di atas gelombang air yang naik itu, diperkirakan pesawat Batik) dan berbentuk seperti kepala ular yang tegak dan siap menerkam. Lalu terjangan tsunami yang kedua ini menghempaskan air laut berwarna hitam dan menelan segala bangunan juga manusia yang ada di tempat itu dengan keras.

Tuhan Mengirimkan Malaikat-malaikat

Ada kisah mengharukan dikisahkan mereka. Saat tiba di gunung, entah siapa yang menaruh, suami Endang menemukan 4 botol air mineral 1500 ml di pinggir jalan. Lalu ia mengambil sebotol air itu untuk keluarganya. Sampai di atas, masih tak mengenakan pakaian beserta anaknya yang telanjang (Sifa, umur 9 tahun), ada seorang anak muda membuka pakaiannya dan merelakannya untuk Sifa. Sebuah kemeja kotak-kotak biru. Si pemuda mengatakan adik kecil itu lebih membutuhkan pakaian. Lalu mereka berkumpul bersama warga yang lain, tidur di alam terbuka. Namun malam itu, kembali ada yang datang membawa daster untuk Sifa pakai tidur dan kaos untuk suaminya. Mereka menangis, tidak ingat lagi akan kehilangan harta benda mereka, namun malah merasa sangat bersyukur pada saat-saat seperti itu ada yang datang memberi pakaian untuk membungkus tubuh di malam yang dingin itu. Namun esok harinya mereka tidak berhasil menemukan orang-orang tersebut lagi. Mereka percaya bahwa orang-orang itu adalah malaikat-malaikat yang dikirim Tuhan.

Sifa mengenakan kemeja dan daster pemberian “si penolong” yang tidak diketahui identitasnya

Memeriksa Setiap Mayat

Sementara dari Taipa, orangtua Endang panik mendengar kabar tsunami melanda Mamboro. Bapak Endang pergi untuk mencari anak, menantu dan cucunya. Pertama kali ke sana, air masih setinggi dada. Tidak menemukan mereka, Bapak masih tidak menyerah, pulang pergi tiga kali ke Mamboro. Memeriksa setiap mayat yang ditemukan, namun semalaman tak menemukan keluarganya tersebut. Di pagi hari istrinya ikut, menuju ke rumah Endang yang tinggal berupa kerangka saja, memanggil nama anaknya berulang-ulang. Lalu seorang tetangga memberitahu bahwa Endang sekeluarga selamat dan telah bertemu mereka di atas gunung. Ibu itu akhirnya dapat bernapas lega ketika melihat Endang sekeluarga turun dari gunung.

Anak pertama Endang saat kejadian gempa berada di pesantren yang berlokasi di Petobo. Hari kedua Bapak Endang berangkat ke Petobo untuk memeriksa kondisi cucu pertamanya itu. Dan anak tersebut ditemukan dan akhirnya berkumpul kembali dengan mereka di Taipa. Sementara Erik, adik Endang berusaha membantu dengan mengumpulkan mayat-mayat di sekitar Mamboro untuk diangkut petugas. Namun setelah hari ketiga, Erik tidak mampu lagi menarik mayat yang telah membengkak.

Kondisi tenda cukup teduh, namun tidak terdeteksi bantuan

Dari Mamboro, tim meluncur lagi dan menemukan pengungsi-pengungsi yang tinggal di teras perumahan kosong. Setelah memberikan bantuan sayur-sayuran dan pakaian dalam, tim di arahkan untuk lebih masuk ke dalam. Dan tim menemukan sebuah tenda di dekat tebing di mana laut dapat terlihat. Situasi tempat itu cukup baik, karena udara terlindung dari panas terik. Keluarga tersebut memilih tempat itu karena faktor suhu tersebut, meskipun mereka mengakui jarang mendapat bantuan dari pihak pemerintah maupun swasta karena lokasi mereka tidak terdeteksi. Namun keluarga dekat mereka masih mendukung dan beberapa kali singgah membawakan bantuan. Sementara itu di dekat tenda ada sebuah rumah milik Dosen Universitas Tadulako. Dosen ini membantu menyediakan genset ketika lampu mati. Dan di sekitar beberapa meter dari tenda ada toilet umum, yang dulu dibuat untuk para tukang yang bekerja di rumah dosen tersebut. Kini toilet itu memudahkan keluarga pengungsi untuk urusan MCK.

Toilet darurat yang sangat membantu pengungsi

Sempat Terkunci Saat Kejadian

Ibu bercerita saat kejadian Jumat sore, kebanyakan masyarakat sedang berada di dalam rumah karena menjelang sholat maghrib. Mereka tidak cukup waspada, karena tidak ada peringatan dari BMKG, sementara anaknya yang bungsu sedang keluar mau pergi masjid. Saat itu air sudah datang dan anak itu terlempar di pohon kelapa. Sang Kakak kedua berlari keluar rumah, menolong sang adik. Saat keluar rumah terkunci semua karena terjangan air. Ibu dan Bapak tak dapat keluar rumah, sehingga sang Kakak berlari ke tetangga meminta pertolongan. Ibu akhirnya berhasil keluar dari belakang rumah dan mengajak seluruh keluarganya untuk lari secepat-cepatnya ke atas gunung. Sementara anak pertamanya saat itu sebenarnya akan pergi ke festival, namun karena janji dengan teman-temannya untuk berkumpul di satu titik, maka ia selamat dan terhindar dari bencana.

Kondisi Sebagian Teluk Palu

Dari tempat itu tim menyusuri tepian teluk Palu, di mana jalan-jalan hancur terbelah dan sampah bangunan beserta segala material yang diterjang tsunami masih berserakan di kiri kanan jalan. Bau tak sedap pun memenuhi udara.

Kondisi sepanjang teluk Palu, masih ada usaha evakuasi

Tim lalu singgah di gereja Katolik St.Paulus, sempat makan siang di posko dapur umum dan kemudian kembali ke gereja St.Maria.

Kondisi Dapur Umum gereja Katolik St.Paulus, siapa saja boleh makan

Posko gereja Katolik St.Maria

Sore hari ke gudang logistik posko St.Maria, terjadi kegiatan yang luar biasa sibuk. Ada truk-truk yang mengantri untuk pembongkaran, sementara di dalam gudang ada pengepakan dan pengiriman barang-barang bantuan dalam bentuk plastik-plastik dan dus ke lokasi gereja yang dipakai untuk menyalurkan bantuan langsung.

Suasana logistik posko gereja Katolik St.Maria

Kondisi gudang logistik posko gereja Katolik St.Maria

Masyarakat dari pagi mengantri untuk mengambil bantuan tersebut, yang antara lain terdiri dari: beras, minyak, gula, biskuit, air mineral, barang-barang keperluan mandi, perlengkapan untuk bayi, dll. Setiap KK bisa mengambil satu plastik bantuan. Dan hari itu kurang lebih 450-an KK yang datang dan dilayani oleh tim logistik yang merupakan relawan yang sebagian besar berasal dari OMK gereja.

Suasana pemberian bantuan langsung kepada masyarakat

Berfoto bersama para relawan logistik yang penuh semangat

Sementara itu malam hari di halaman susteran, Rani salah seorang suster relawan dan Dian, misionaris KBKK mengajak anak-anak pengungsi bermain dan bernyanyi serta membaca cerita Alkitab dengan menggunakan buku donasi dari Lembaga Alkitab Indonesia.

Rani dan Dian mengajak anak-anak pengungsi bermain dan bercerita

Setelah makan malam, RD.Joy Deri mengumpulkan semua relawan untuk rapat koordinasi dan evaluasi. Mulai dari tim logistik, tim kajian data, media center, tim dapur umum, tim kesehatan dan tim transportasi. Rapat berlangsung dengan baik. Diingatkan kembali bahwa seluruh tim hanya merupakan jembatan, yang menjembatani pengungsi. Diharapkan koordinasi antar tim dapat dilakukan dengan penuh kesabaran.

Papan-papan informasi koordinasi posko St.Maria

Bagi sahabat misioner yang tergerak hati untuk meringankan penderitaan korban bencana Palu dan Donggala ini, dapat mengirimkan donasi ke:

Yayasan KBKK
BCA 0653602020

*Mohon tambahkan 123 pada akhir nominal transfer atau cantumkan berita: bencana

Atas ketergerakan hati dan kepedulian sahabat misioner dan khususnya para donatur, kami ucapkan limpah terima kasih. Tuhan memberkati setiap usaha dan niat baik.

Salam misioner,
Angel

549 Total Views 1 Views Today
Share.

About Author

Angel Li

Anggota Komisi Dokominfo KBKK Periode 2018-2023

Leave A Reply