Romo Vincent Suparman SCJ Syering tentang Pelayanan Iman di Papua (3)

0

I hope this e-mail finds you all well. I just want to drop you a few lines to let you know I am doing well here in Lower Brule, South Dakota, the United States. Some of you might have heard that I had been working in West Papua for ten years before I was assigned to do mission work here in Lower Brule, the Land of Native Americans.

Interesan sekali bisa mencermati dan mengikuti kisah perjalanan tim Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan  (KBKK)  ini sebagaimana disyeringkan oleh Ibu Wiewie. Banyak hal telah mengingatkan saya akan hari-hari pernah tinggal bersama umat Tuhan yang waktu itu telah dipercayakan kepada saya.

 

Tim KBK beraksi di salah satu pedalaman di Asmat, Papua/ Foto: Abdi Susanto

Tim KBK beraksi di salah satu pedalaman di Asmat, Papua/ Foto: Abdi Susanto

Kalau Ibu Wiewie lebih banyak berada tinggal di daratan rendah, khususnya Agats-Asmat, saya punya pengalaman yang jauh berbeda. Empat tahun saya tinggal di sebuah kampung kecil. Ketika saya mendarat dari pesawat Cessna yang dipiloti oleh Mr. Mike Valley di air strip (landas pacu rumput) Epouto, Pegunungan Tengah, saya disambut dengan amawainai (tarian telanjang dada) laki-laki dan perempuan lengkap dengan atribut.

Kisah yang terjadi pada tanggal 27 Juli 2001 itu sering muncul dalam fikiran saya. Pada umur 37 tahun saya harus  meninggalkan gemerlapnya kota Palembang dan meninggalkan kota kelahiran, Metropolis, Lampung, dan harus percaya pada penyelenggaraan ilahi (providentia divina) terbang ke Timur demi tugas misi. No matter how difficult it was, I was there!

Selamat kepada Ibu Wiewie and KBKK group. Thank you very much for what you have done for those in need. Selamat melanjutkan menuliskan kisah perjalan di Tanah Papua.

Ibu Wie, keep in touch when time allows!

1090 Total Views 2 Views Today
Share.

About Author

Mathias Hariyadi

Pemimpin Redaksi Sesawi.Net

Leave A Reply